|
Written by Aripin Tambunan
|
|
Wednesday, 11 November 2009 |
|
The Power Of Religion Oleh Aripin Tambunan Pendahuluan Kekuatan dan otoritas agama sejak masa renaisans hingga kini telah mengalami gugatan. Gugatan tersebut disebabkan beberapa hal yang terjadi, seperti: Pertama, doktrin yang ada di dalam agama tertentu tidak dapat digugat, dipertanyakan kebenarannya. Agama menjadi tertutup atau kebal terhadap seluruh kritikan yang datang atasnya. Hal tersebut terjadi karena pada dasarnya, agama muncul dengan basis pendidikan doktrin. Pada hal pendidikan yang mengacu pada doktrin, terkadang menjadi pendidikan yang membelenggu akal budi, karena seseorang diharuskan berpikir sesuai dengan doktrin. Mengapa demikian? Karena memang demikianlah sifat doktrin seperti yang diutarakan oleh Edgar Morin (2005: 24),[2] yaitu doktrin-doktrin adalah teori-teori tertutup yang secara mutlak yakin akan kebenarannya dan kebal terhadap semua kritik yang menunjukkan kekeliruannya. Walters memberikan suatu hukum mengenai hal ini yang ia sebut namanya hukum proliferasi dogmatik yaitu, kecenderungan dogmatik meningkat berbanding langsung dengan ketidak mampuan seseorang untuk membuktikan suatu pendapat (2003: 21). |
|
Last Updated ( Friday, 04 December 2009 )
|
|
Read more...
|
|
|
Iman, pendidikan, dan pelayanan |
|
Written by Aripin Tambunan
|
|
Saturday, 24 October 2009 |
|
Iman, Pendidikan dan Pelayanan Oleh Aripin Tambunan Pendahuluan Dua kemalangan yang terjadi pada dunia kekristenan menyangkut tema di atas, pertama, ada orang yang beriman dan mau melayani tetapi tidak terdidik dengan baik, sehingga berpotensi besar untuk mengajarkan ajaran yang berbeda dari Alkitab. Dengan kata lain ia mengajarkan ajaran sesat tanpa bermaksud menyesatkan. Dan bila seseorang memegang prinsip ini, maka alat ukur untuk mengukur seseorang layak melayani adalah kemauan dan bukannya kemampuannya. Dan akibatnya muncul orang yang beriman namun buta pendidikan, pada hal Alkitab sangat menekankan pendidikan. Hal itu dapat terlihat dalam kitab Amsal, dan yang lebih tegas dapat terlihat dalam, Ulangan 6: 4-7, yaitu ”... haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun.” |
|
Last Updated ( Friday, 04 December 2009 )
|
|
Read more...
|
|
|
Written by Aripin Tambunan
|
|
Saturday, 24 October 2009 |
|
Masyarakat dan Kota dalam Perspektif Teosofi Oleh Aripin Tambunan Pendahuluan Perspektif teosofi yang dimaksud pada judul tulisan ini adalah, perspektif dari sudut pandang teologi, sosiologi, dan filsafat disingkat teosofi. Mengapa masyarakat harus ditinjau dari tiga sudut pandang tersebut? Karena sesuai dengan apa yang dikatakan Rousseau dalam Mochtar Pakpahan bahwa, masyarakat adalah kesatuan yang dibentuk individu-individu, individu-individu tersebut membentuk kesatuan melalui perjanjian masyarakat. Kesatuan masyarakat tersebut membentuk pendapat umum yang disebut dengan volonte generale. Dan Volonte generale ini dianggap sebagai cerminan kemauan dan kehendak umum yaitu masyarakat. |
|
Last Updated ( Friday, 04 December 2009 )
|
|
Read more...
|
|
|
|
<< Start < Prev 1 2 3 4 Next > End >>
|
| Results 9 - 12 of 15 |