|
Vir Doctus Et Credit Fortiter Deo |
|
|
|
|
Written by Aripin Tambunan
|
|
Wednesday, 13 January 2010 |
|
Varietas Baru Manusia: Vir Doctus Et Credit Fortiter Deo Oleh Aripin Tambunan Pendahuluan Setelah melihat varietas baru manusia: Homo Ingenium Praeter Impius, yang datang sebagai hasil dari pendidikan modern, maka kini akan diperlihatkan varietas baru manusia: Vir Doctus Et Credit Fortiter Deo. Vir Doctus Et Credit Fortiter Deo, adalah manusia genius tetapi percaya kepada Tuhan. Varietas ini lahir sebagai hasil ciptaan baru dari Tuhan. Dimanakah kelebihan manusia baru: Homo Ingenium Praeter Impius dibandingkan dengan Vir Doctus Et Credit Fortiter Deo? Bisakah manusia baru, Vir Doctus Et Credit Fortiter Deo, lebih unggul dari Homo Ingenium Praeter Impius? Ataukah sebaliknya yang terjadi? |
|
Last Updated ( Tuesday, 24 August 2010 )
|
|
Read more...
|
|
|
SPIRITUALITAS HOLISTIK MAZMUR 1 |
|
|
|
|
Written by Ery Prasadja
|
|
Wednesday, 23 December 2009 |
|
SPIRITUALITAS HOLISTIK MAZMUR 1: PEMIKIRAN REFLEKTIF Ery Prasadja
Trilogi Kebahagiaan: Arah Hidup, Tindakan dan Perkataan Setiap orang ingin memiliki hidup yang berbahagia dan diberkati. Tidak heran jika banyak gereja dan hamba Tuhan, yang kotbah-kotbahnya selalu menjanjikan berkat. Apakah fenomena spiritualitas yang demikian salah? Bukankah fenomena semacam ini menunjukkan dan menjawab kejujuran realita sosial. Sebaiknya, kita tidak terburu-buru untuk men-jatuhkan vonis dan penghakiman. Sesungguhnya, Alkitab sendiri juga menjanjikan begitu banyak berkat bagi manusia. Gereja atau hamba Tuhan yang kotbah-kotbahnya menjanjikan berkat tentu dapat dibenarkan, jika berkat-berkat yang dikotbahkan sesuai dengan apa yang dijanjikan oleh Alkitab itu sendiri.
|
|
Last Updated ( Wednesday, 23 December 2009 )
|
|
Read more...
|
|
|
Written by Aripin Tambunan
|
|
Saturday, 14 November 2009 |
|
Etika Kristen Melampaui Etika Alamiah Oleh Aripin Tambunan Pendahuluan Bila dilihat dalam ranah Filsafat, maka persoalan etika sebenarnya telah terlihat nyata dalam kehidupan Yunani klasik. Para sofis telah muncul sebagai ahli pikir yang kritis, namun tidak lagi mengutamakan kebenaran. Bagi mereka yang terpenting adalah memenangkan perdebatan, itu sebabnya mereka lebih mengembangkan ilmu retorika. Mereka menghantam sendi-sendi moralitas yang ada dengan satu pemikiran moralitas baru dengan berkata, bahwa “baik” dan “buruk” merupakan masalah keputusan bersama daripada suatu aturan abadi. Menurut mereka aturan tidak abadi, apalagi dapat berlaku umum. Itu sebabnya mereka mengeluarkan pemikiran-pemikiran baru, di mana dua orang yang terkenal dari mereka adalah Protagoras, “Manusia adalah ukuran segalanya” (kebenaran relatif, kebenaran tidak lagi tergantung pada isi) dan Georgias, “Kebenaran itu memang sudah tidak ada lagi, (Nihilisme).
|
|
Last Updated ( Tuesday, 24 August 2010 )
|
|
Read more...
|
|
|
Written by Aripin Tambunan
|
|
Wednesday, 11 November 2009 |
|
Teologi Filosofi Oleh Aripin Tambunan Mungkinkah dilakukan satu pendekatan yang berbasis teologis sekaligus filosofis? Bukankah kedua pendekatan pemikiran tersebut sangat bertolak belakang? Di mana teologi dalam mencari kebenaran didasarkan pada adanya wahyu dari Sang Pencipta yang menceritakan/ menjelaskan asal-mula segala sesuatu. Sebagaimana wahyu menjelaskan tetang asal-mula segala sesuatu, maka penjelasan itu haruslah diterima dengan sepenuhnya sebagai suatu kebenaran. Sudah barang tentu dalam penerimaan tersebut harus di dasarkan pada iman. Filsafat mendasarkan pembangunan pemikirannya berdasarkan rasio. Artinya, apa yang dapat terinderai dalam pengalaman hidup manusia dan memenuhi hukum rasional (logika formal). Jika sesuatu tidak dapat terinderai dan tidak memenuhi hukum logika formal, maka hal tersebut tidak dapat diterima sebagai kebenaran (tidak valid sebagai pengetahuan). Jadi dapat dikatakan, bahwa pendekatan filsafat dalam membangun pemikirannya adalah berdasarkan empiris dan rasional. |
|
Last Updated ( Friday, 04 December 2009 )
|
|
Read more...
|
|
|
Written by Aripin Tambunan
|
|
Wednesday, 11 November 2009 |
|
The Power Of Religion Oleh Aripin Tambunan Pendahuluan Kekuatan dan otoritas agama sejak masa renaisans hingga kini telah mengalami gugatan. Gugatan tersebut disebabkan beberapa hal yang terjadi, seperti: Pertama, doktrin yang ada di dalam agama tertentu tidak dapat digugat, dipertanyakan kebenarannya. Agama menjadi tertutup atau kebal terhadap seluruh kritikan yang datang atasnya. Hal tersebut terjadi karena pada dasarnya, agama muncul dengan basis pendidikan doktrin. Pada hal pendidikan yang mengacu pada doktrin, terkadang menjadi pendidikan yang membelenggu akal budi, karena seseorang diharuskan berpikir sesuai dengan doktrin. Mengapa demikian? Karena memang demikianlah sifat doktrin seperti yang diutarakan oleh Edgar Morin (2005: 24),[2] yaitu doktrin-doktrin adalah teori-teori tertutup yang secara mutlak yakin akan kebenarannya dan kebal terhadap semua kritik yang menunjukkan kekeliruannya. Walters memberikan suatu hukum mengenai hal ini yang ia sebut namanya hukum proliferasi dogmatik yaitu, kecenderungan dogmatik meningkat berbanding langsung dengan ketidak mampuan seseorang untuk membuktikan suatu pendapat (2003: 21). |
|
Last Updated ( Friday, 04 December 2009 )
|
|
Read more...
|
|
|
|
<< Start < Prev 1 2 3 4 Next > End >>
|
| Results 1 - 9 of 36 |