






| Vir Doctus Et Credit Fortiter Deo |
|
|
|
| Written by Aripin Tambunan | ||||||||||||||||||
| Wednesday, 13 January 2010 | ||||||||||||||||||
Page 1 of 16 Varietas Baru Manusia: Vir Doctus Et Credit Fortiter Deo Oleh Aripin Tambunan
Pendahuluan Setelah melihat varietas baru manusia: Homo Ingenium Praeter Impius, yang datang sebagai hasil dari pendidikan modern, maka kini akan diperlihatkan varietas baru manusia: Vir Doctus Et Credit Fortiter Deo. Vir Doctus Et Credit Fortiter Deo, adalah manusia genius tetapi percaya kepada Tuhan. Varietas ini lahir sebagai hasil ciptaan baru dari Tuhan. Dimanakah kelebihan manusia baru: Homo Ingenium Praeter Impius dibandingkan dengan Vir Doctus Et Credit Fortiter Deo? Bisakah manusia baru, Vir Doctus Et Credit Fortiter Deo, lebih unggul dari Homo Ingenium Praeter Impius? Ataukah sebaliknya yang terjadi?
Varietas ini merupakan hasil penciptaan ulang yang dilakukan oleh Tuhan pada manusia lama (keturunan Adam), seperti yang tertulis dalam Efesus 4: 24, ‘dan mengenakan manusia baru,[1] yang telah diciptakan menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya.’ KJV, menterjemahkannya sebagai berikut: And that ye put on the new man, which after God is created in righteousness and true holiness. The Expositor’s Bible Commentary, menjelaskan bahwa, righteousness atau δικαιοσυνη (Yun), often stands for the uprightness of those who are made right with God.[2] Jadi perkataan God is created in righteousness and true holiness, dapat diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia sebagai, Tuhan menciptakan di dalam keadilan dan kekudusan yang benar. Hal itu berarti manusia baru yang dicipta ulang ini memiliki aspek hukum (keadilan), aspek moral (kekudusan), dan aspek rasio (kebenaran). Ketiga aspek inilah yang membedakan varietas baru ini dengan manusia tradisional dan manusia varietas baru Homo Ingenium Praeter Impius. Perbedaan tersebut digambarkan The Interpreter’s Bible, sebagai ‘The desires which ruled the old self were deceitful, and brought life to ruin; the righteousness and holiness of the new life are true, and bring life to its true fulfillment.’[3] Jadi varietas baru ini, dapat membawa hidup kepada pemenuhan yang benar dari aspek hukum, aspek moral, dan aspek rasio. |
||||||||||||||||||
| Last Updated ( Tuesday, 24 August 2010 ) | ||||||||||||||||||
| Next > |
|---|