






| Spiritualitas Tanpa Tuhan |
|
|
|
| Written by Aripin Tambunan | ||||||||||||||||
| Wednesday, 16 September 2009 | ||||||||||||||||
Page 2 of 14 Ketiga, kategori IPTEK. Ilmu pengetahuan modern menolak adanya pengalaman tentang Tuhan. Hal ini dapat terlihat dari penolakan David Hume terhadap Tuhan. Ia tidak percaya adanya Allah, karena Ia tidak dapat dibuktikan secara empiris atau secara pengalaman. Sebab, sumber pengetahuan baginya adalah dari kesan ke gagasan dan bukan sebaliknya. Contoh, ketika saya melihat tempat tidur di kamar, maka itu adalah kesan dan ketika membuka mata, maka dikepala saya ada imajinasi tentang kamar saya. Hal itu merupakan representasi atau wakil dari kesan saya. Demikian halnya mengenai Allah, Ia tidak dapat dibuktikan dengan kesan manusia. Ia tidak dapat diraba, dilihat dan diobservasi oleh manusia. Oleh sebab itu, Ia tidak ada, tidak dapat untuk dibuktikan. Manusia hanya dapat memperoleh gagasan mengenai-Nya. Namun gagasan tanpa kesan adalah suatu kebohongan dan itu hanyalah ilusi atau imajinasi saja. Hume mengatakan, Thus when we affirm, that God is existent, we simply form the idea of such a being, as he is represented to us; nor is the existence, which we attribute to him, conceiv’d by a particular idea, which we join to the idea of his other qualities, and can again separate and distinguish from them ( 2003: 65). Keempat, kategori materialistik yang memandang dunia sebagai materi, sehingga tidak ada tempat untuk Tuhan di alam semesta. Buchner, seorang pendekar materialism Jerman mengatakan, ‘That matter is the ultimate principle of life’ mengapa ia mengatakan hal tersebut, karena materi itu abadi, ia mengatakan: ‘Both matter and energy cannot be destroyed, both have existed from the beginning of time. No God, then, is needed to explain the structure and the origin of the universe (Mayer, 1951: 492). Kelima, kategori Tuhan itu hanya dapat didalilkan namun tidak dapat dipertunjukkan kehadiran-Nya. Comte-Sponville[1] mengatakan keberadaan Tuhan hanya bisa didalilkan namun tak dapat dipertunjukkan. Kehadiran-Nya adalah objek keimanan, bukan pengetahuan (penolakan terhadap argumentasi ontologis tentang keberadaan Tuhan yang telah dilakukan oleh Anselmus pada abad 11) (Ibid., 93). Itulah sebabnya Ia percaya bahwa Tuhan itu tidak ada, paling tidak dalam hidup ini (2007: 80). Mengapa? Karena ia tidak memiliki cukup bukti, apakah Tuhan itu ada atau tidak ada (Ibid.,86). Keenam, kategori kekecewaan melihat sikap-sikap orang Kristen dan teologi yang berkembang. Ludwig Andreas Feurbach yang banyak mempengaruhi Marx, Freud, dan Nietzsche, mengatakan, I have changed over from theology to philosophy, no salvation without philosophy. Mengapa ia mengutarakan hal ini adalah karena ia kecewa dengan teologi yang pada waktu itu dipengaruhi oleh dua aliran yakni, teologi ortodoks dan teologi liberal. Di mana teologi ortodoks pada waktu itu terlibat peperangan dengan rasionalisme dan teologi liberal yang mencoba menyesuaikan diri dengan filsafat yang mengambil bahan dasarnya dari filsafat Hegel, (Fattah, 2004: 57). Kemudian ia mengembangkan filsafatnya mengenai Tuhan, ia mengatakan bahwa manusialah yang menciptakan Allah dengan mengeluarkan sifat-sifat manusia ke luar dari dirinya, menjadi satu pribadi yang mandiri dan kemudian menyembahnya dan menyebutnya sebagai Allah. Dengan menyebut Allah sebagai mahatahu, manusia sebenarnya hanya memenuhi dambaannya untuk bisa mengetahui segala sesuatu, dengan mengatakan Allah ada di mana-mana, manusia ingin memenuhi keinginannya agar tidak terikat pada ruang, dan dengan mengatakan Allah itu kekal, manusia sebenarnya ingin memenuhi keinginannya untuk tidak terikat oleh waktu. Feurbach menamakan ini sebagai proyeksi manusia (Sudarminta & Tjahjadi, 2008: 146). Jika pendapat Feurbach demikian, tidak heran, Montaigne mengatakan, ”mahluk yang bernama manusia itu agaknya gila. Ia mustahil dapat menciptakan seekor ulat sekalipun, tapi ia menciptakan lusinan Tuhan.” |
||||||||||||||||
| Last Updated ( Tuesday, 24 August 2010 ) | ||||||||||||||||
| < Prev | Next > |
|---|