






| Spiritualitas Tanpa Tuhan |
|
|
|
| Written by Aripin Tambunan | ||||||||||||||||
| Wednesday, 16 September 2009 | ||||||||||||||||
Page 14 of 14 Kesimpulan Spiritualitas tidak mungkin tanpa Tuhan, sebab tidak akan ada ukuran atau patokan yang jelas terhadap spiritualitas jika tanpa Tuhan. Dan tidak ada gunanya seseorang memiliki spiritualitas di dunia ini, jika tanpa Tuhan, karena antara orang yang memiliki spiritualitas yang baik dengan yang tidak baik, tidak ada bedanya. Semuanya akan berakhir di rumah ketiadaan dan tidak ada bedanya dengan binatang.
Daftar Pustaka Anselm, St., (translated by S. N. Deane) 1962 Basic Writings, Illinois: Open Court Publishing
Clark, Gordon H., 1985 Thales To Dewey, Maryland: The Trinity Foundation
Comte-Sponville, Andre, (terj. Ully Tauhida) 2007 Spiritualitas Tanpa Tuhan, Jakarta: Pustaka Alvabet.
Copleston, Frederick, 1993 A History of Philosophy, New York:--
Dyrness, William, 1992 Tema-tema dalam Teologi Perjanjian Lama, Malang: Gandum Mas
Fattah, Damanhuri, 2004 10 Filsuf Pemberontak Tuhan, Jogyakarta: Panta Rhei Books
Gould, James A., (ed) 1985 Classic Philosophical Questions, Colombus: Charles E. Merrill Publishing
Heidegger, Martin, (edited William McNeill), 1999 Pathmarks, Melbourne: Cambridge University Press.
Hume, David, (Edited John P Wright, etc) 2003 A treatise of Human Nature, Michigan: Everyman
Lawhead, William F., 2003 Philosophical Questions, New York: McGraw Hill
Mayer, Frederick, 1951 A History of Modern Philosophy, New York: American Book Company.
Nietzsche, Friedrich, 1954 The Philosophy of Nietzsche, New York: The Modern Library.
Sartre, Jean-Paul, 1966 Being and Nothingness, Washington Square Press.
Sudarminta, J., & Tjahjadi, Lili, 2008 Dunia Manusia dan Tuhan, Yogyakarta: Kanisius
Webster’s Encyclopedic Unabridged Dictionary of The English Language, New york: Portland House, 1989. [1] Ia adalah seorang Filsuf terkemuka Prancis. Ia pernah menjadi professor filsafat di Universitas Sorbonne, Paris. Ia penganut Kristen Khatolik hingga berusia 18 tahun, dan kemudian berubah menjadi seorang ateis dan menolak disebut sebagai seorang agnostik (tidak membenarkan maupun menyangkal keberadaan Tuhan). [2] Tuhan didalilkan sebagai wujud Yang Mahatinggi, Wujud Yang Sempurna. [3] Segala sesuatu yang terjadi di dunia ini memiliki sebab, dan jika itu terus ditelusuri, maka akan sampai kepada sebab pertama. Dan penyebab pertama itu adalah Tuhan. [4] Tuhan yang menempatkan hukum-hukum-Nya di alam, sehingga alam ada dalam keadaan yang demikian, seperti misalnya, hokum gravitasi.. [5] Argumentasi rancangan: Ada satu perancang dunia, yang merancang dunia ini sedemikian rupa agar manusia dapat tinggal di dalamnya. [6] Argumentasi moral sangat beragam, salah satunya adalah tidak akan ada benar atau salah, jika Tuhan tidak ada. [7] Sama seperti eksistensi manusia, tidak bergantung pada orang lain atau lingkungan di mana ia berada. Tetapi bergantung pada dirinya sendiri –jika terlalu berlebihan untuk mengatakan eksistensi manusia bergantung pada Tuhan. [8] pengetahuan analitis merupakan hasil analisa [9] a priori adalah, pengetahuan yang tidak tergantung pada adanya pengalaman atau yang ada sebelum pengalaman [10] pengetahuan sintesis merupakan hasil keadaan yang mempersatukan dua hal yang biasanya terpisah [11] pengetahuan a posteriori terjadi sebagai akibat pengalaman [12] Epistemologi ialah ilmu yang mempelajari bagaimana orang membenarkan pengetahuan atau keyakinannya. Jadi, persoalan dalam epistemologi ialah pembenaran atau dapat dikatakan “How do we know we know?” (bagaimana kita tahu bahwa kita tahu?) Penggunaan sisi rasio. [13] Metafisika membicarakan apa yang ada disamping (meta= disamping) hal-hal fisik. Dan sebenarnya inti filsafat ialah mencari apa yang ada di balik alam fisik yang kita amati sehari-hari. Berarti penggunaan sisi supra rasio dari akal. [14] Posrealitas adalah realitas yang berpotensi ada. Aristoteles menjelaskan ada empat penyebab terjadinya realitas yang berpotensi ada yaitu: pertama, causa formalis (sebagai penyusun bahan); causa finalis (tujuan yang menjadi arah suatu wujud); causa effeciens (motor penggerak); causa materialis (bahan dari suatu benda). Bila disesuaikan dengan rumus Aristoteles tersebut, maka jiwa merupakan realitas yang berpotensi ada, sebab causa materialisnya adalah tubuh, causa efficiensnya adalah roh, causa formalisnya adalah bentuk manusia; causa finalis adalah manusia yang memiliki jiwa (emosi, kehendak rasio) (Lihat Copleston, 1993: 306-307). [15] Lihat 1 Korintus 2: 11 [16] Apa sifat hukum moral Allah ini, dapat dilihat pada Aripin Tambunan, Masyarakat dan Kota dalam Perspektif Teosofi, Jurnal Transformasi 4 (1): 45-60. [17] Jika adanya dunia yang akan datang ditolak, maka harus ditolak juga adanya dunia roh. Jika dunia roh ditolak, maka manusia sebagai mahluk hidup yang dapat berpikir, dll., juga harus ditolak.Dengan demikian, penolakan terhadap dunia yang akan datang, berarti penolakan terhadap eksistensi manusia sebagai mahluk hidup yang rasional. |
||||||||||||||||
| Last Updated ( Tuesday, 24 August 2010 ) | ||||||||||||||||
| < Prev | Next > |
|---|