






| Spiritualitas Tanpa Tuhan |
|
|
|
| Written by Aripin Tambunan | ||||||||||||||||
| Wednesday, 16 September 2009 | ||||||||||||||||
Page 10 of 14 Lebih lanjut, pikiran dapat lenyap. Ketika seseorang mengalami amnesia, maka kualitas spiritualnya tidak dapat diukur atau dilihat lagi. Apalagi jika ia mati, maka pikirannya juga lenyap. Dengan demikian, jiwa tidak dapat sebagai tempat untuk bertumbuhnya spiritual seseorang. Dan seandainya tetap dapat, maka akan ada binatang-binatang yang memiliki spiritul yang baik, karena binatang juga memiliki jiwa. Tempat bertumbuhnya spiritual itu lebih tepat di roh, mengapa? Karena roh manusia itu merupakan pelita Tuhan yang menyelidiki seluruh lubuk hatinya (Amsal 20: 27). Itu sebabnya, manusia tidak dapat mendustai hati nuraninya sendiri. Sekalipun seseorang mempergunakan rasional instrumental untuk membenarkan tindakannya yang jahat, tetapi hati nuraninya tetap akan berkata-kata bahwa apa yang dilakukannya jahat. Meskipun hal tersebut hanya sesaat saja, sebab hati nurani tersebut dapat dibungkam agar diam dan tidak menuduh dirinya jahat. Walaupun dapat dibungkam, namun hati nurani tersebut tidak dapat di dustai. Apabila seseorang hendak menyangkal bahwa ia tidak memiliki hati nurani, maka ia menyangkali keberadaannya sendiri. Dan apabila ia mengakui bahwa, ia memiliki hati nurani, maka ia juga harus mengakui keberadaan roh manusia. Roh manusia ini, tidak dapat diserap oleh rasio, itu sebabnya harus diserap oleh iman (supra rasio). Sebab jika rasio formal mau menyerap (mengerti) roh manusia, maka itu merupakan kemustahilan. Sebab hal itu di atas akal manusia (supra rasio). Akal formal tidak sanggup menjelaskannya, dan jika akal manusia tidak sanggup menjelaskannya, bukan berarti keberadaan roh manusia tersebut tidak ada. Itu semua terjadi hanya karena, salah dalam mempergunakan perangkatnya. Seharusnya mempergunakan perangkat supra rasio (iman), namun yang digunakan perangkat rasio. Akibatnya, tidak dapat memahaminya. Untuk mengukur spiritualitas (kualitas spiritual) seseorang tidak dapat dilakukan orang lain. Pengukuran itu hanya dapat dilakukan oleh dirinya sendiri, karena hanya rohnyalah yang tahu, apa yang dilakukannya jahat atau baik. Rohnyalah yang menyelidiki seluruh motif dari tindakannya, apakah baik atau jahat. Dan Paulus telah mengutarakan hal ini jauh sebelumnya dengan berkata, ‘siapa gerangan yang tahu akan manusia selain roh manusia itu sendiri.’[15]Hal ini pun telah diutarakan Immanuel Kant, bahwa ada pengetahuan terhadap suatu benda yang tidak dapat diketahui, yang hanya benda itu sendiri yang mengetahuinya das ding an sich, atau thing in it self. Namun jika manusia hanya memiliki roh sebagai kapasitas, fungsi atau tindakan, yang berarti jiwa. Maka memang tidak ada yang tersembunyi di dalam diri manusia itu, sebab manusia itu sama dengan benda atau binatang. Keadaan seperti ini disebut Hegel dengan perkataan, das wahre ist geis das ganje. |
||||||||||||||||
| Last Updated ( Tuesday, 24 August 2010 ) | ||||||||||||||||
| < Prev | Next > |
|---|