






| PENGKOMUNIKASIAN INJIL |
|
|
|
| Written by Amos Sukamto | |||||||||
| Sunday, 27 September 2009 | |||||||||
Page 1 of 7 PENGKOMUNIKASIAN INJILKEPADA ORANG JAWA
Sukamto, M.Div.
Communication never takes place in a social vacuum, but always between individuals who are part of a total social context. Eugene A. Nida Orang Jawa biasanya dikenal “nggoning semu” yang berarti orang Jawa itu tempat atau sumber segala lambang M. Suprihadi Sastrosupono PENDAHULUAN1. Latar Belakang Komunikasi yang bersifat lintas budaya bukanlah hanya merupakan masalah bahasa, tetapi sangat terkait dengan budaya dan world view dari pelaku-pelaku yang terlibat dalam proses komunikasi tersebut. Ini berarti, untuk membuat sebuah komunikasi lintas budaya bisa menjadi lebih efektif diperlukan pemahaman budaya dari setiap pelaku yang terlibat dalam proses komunikasi. Nida berpendapat bahwa ada tiga budaya yang sangat menentukan berhasil tidaknya sebuah komunikasi Injil lintas budaya yaitu: budaya Alkitab, budaya masyarakat receptors, dan budaya komunikator Injil (Nida 1960: 33-58 bnd. Shaw 1988:21-176). Oleh karena itu komunikator Injil perlu memahami, belajar bukan hanya bahasa tetapi budaya dari masyarakat dimana Injil akan dikomunikasikan. Tepat seperti yang diungkapkan oleh Hesselgrave: ... But before they can do so effectively, they must study again-not just the language, but also the audience. They must learn before they can teach, and listen before they can speak. They need to know the message for the world, but also the world in which the message must be communicated (1992: C35-C36). Berdasarkan kerangka berpikir tersebut di atas, supaya bisa terjadi komunikasi Injil yang efektif di antara orang Jawa (terutama bagi mereka yang datang dari bukan Jawa) maka perlu mempelajari budaya Jawa terlebih dahulu. 2. Metode dan Penataan Studi Studi mengenai kebudayaan Jawa sudah banyak mendapat perhatian dari kalangan sarjana baik dari dalam maupun luar negeri. Geertz dengan magnum opusnya The Religion of Java[1] telah membawa nama Jawa ke dalam diskusi pada aras internasional yang melibatkan banyak ahli, baik ahli sosiologi maupun antropologi. Di antara para sarjana ahli Jawa tersebut yang terkenal adalah Koentjaraningrat, Anderson, Mulder dan Hefner. Penulis mengambil data-data tentang kebudayaan Jawa dari hasil penelitian empiris para sarjana tersebut dan membuat refleksi bagaimana aspek budaya tersebut berpengaruh terhadap pengkomunikasian Injil. Tulisan ini terdiri dari empat bagian. Bagian I merupakan latar belakang dan kerangka berpikir dari tulisan ini. Bagian II membahas beberapa aspek budaya Jawa. Bagian III membahas bagaimana aspek-aspek budaya tersebut berpengaruh terhadap komunikasi Injil dan Bagian IV sebagai kesimpulan dari pada studi ini. |
|||||||||
| Last Updated ( Friday, 04 December 2009 ) | |||||||||
| < Prev | Next > |
|---|