• www.inti-edu.net
  • www.inti-edu.net
  • www.inti-edu.net
  • www.inti-edu.net
  • www.inti-edu.net
  • www.inti-edu.net
  • www.inti-edu.net

Waktu Hari ini

Statistics

OS: Linux m
PHP: 5.2.9
MySQL: 5.0.92-community-log
Time: 03:06
Caching: Disabled
GZIP: Enabled
Members: 59
News: 151
Web Links: 9
Visitors: 71595

Syndicate

H o m e

meskipun masih dalam tahap pengembangan websit STT INTI yang baru sudah dapat dikunjungi di www.sttinti.com
PENGKOMUNIKASIAN INJIL PDF Print E-mail
Written by Amos Sukamto   
Sunday, 27 September 2009
Article Index
PENGKOMUNIKASIAN INJIL
Page 2
Page 3
Page 4
Page 5
Page 6
Page 7

Nida, Eugene A.

1960

Message and Missions: The Communication of the Christian Faith. New York: Harper and Row.

 

Sardjono, Maria A.

1992

Paham Jawa: Menguak Falsafah Hidup Manusia Jawa Lewat Karya Fiksi Mutakhir Indonesia. Jakarta: Sinar Harapan.

 

Sastrosupono, M. Suprihadi

1984

Sinkretisme dan Orang Kristen Jawa. Bandung: Lembaga Literatur Baptis.

 

Shaw, R. Daniel

1988

Transculturation: The Cultural Factor in Translation and Other Communication Tasks. Pasadena, California: William Carey Library.

 

Suparlan, Parsudi

1989

“Kata Pengantar.” Dalam Clifford Geertz. Abangan, Santri, Priyayi dalam Masyarakat Jawa. Jakarta: Pustaka Jaya.

Sutoyo

1990

“Peranan Kebudayaan Jawa dalam Pengembangan Kebudayaan Nasional Indonesia.” Dalam Wisnu Tri Hanggoro, ed. Masalah Pengembangan Kebudayaan Nasional Indonesia. Semarang: Penerbit Satya Wacana.

 Jurnal

 

Bachtiar, Harsja W.

1973

“The Religion of Java: a Commentary.” Madjalah Ilmu-ilmu Sastra Indonesia 5:1 (Januari):85-118.

 

Kim, Hyung Jun.

1998

“Unto You Your Religion and Unto Me My Religion: Muslim-Christian Relations in a Javanese Village.” Sojourn 13:1, 62-85.

 

Sukrisno

1992

“Misiologi dan Kebudayaan Jawa.” Majalah Gema (43):70-92.

 

Suparlan, Parsudi

1976

“The Javanese in Surinam: Ethnicity in an Ethnically Plural Society.” Disertasi Ph.D. University of Illinois.

 

Widyamanta, Siman.

1986

“Budaya Daerah (Jawa) di Dalam Kehidupan Gereja di Indonesia.” Majalah Gema 32 (Februari):4-13.

 

 

 

 


Sukamto, M.Div., menyelesaikan Master of Divinity (M.Div.) dari Asian Center for Theological Studies and Mission (ACTS), Korea Selatan.  Mengajar di beberapa STT di Jawa Tengah (STT INTHEOS, STT NUSANTARA, STT EFATA, STT PESAT) dari tahun 1996-2000.  Kemudian merantau ke Bandung pada tahun 2000 bekerja untuk Institute for Community and Development Studies (ICDS), Bandung.  Sejak tahun 2004 menjadi tenaga pengajar tetap di STT INTI Bandung.  Beberapa karya ilmiahnya ditebitkan di Jurnal Pelita Zaman dan Jurnal Studi Pembangunan dan Kemasyarakatan.  Tulisan populer diterbitkan majalah Rohani Bahana.



[1] Lihat Clifford Geertz, The Religion of Java, (New York: The Free Press, 1969). Sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia Abangan, Santri, Priyayi Dalam Masyarakat Jawa, (Jakarta: Pustaka Jaya, 1989).

[2] Daerah-daerah yang dianggap sebagai pusat kejawen kecuali wilayah Surakarta dan Yogyakarta adalah karisedenan Banyumas, Kedu, Madiun, Kediri dan Malang (Kodiran 1975:322).

[3] Meskipun pembagian seperti ini banyak mendapat kritik dari para sarjana Indonesia karena ketiga golongan tersebut tidaklah bersumber pada satu sistem klasifikasi yang sama dimana abangan dan santri adalah penggolongan yang dibuat menurut tingkat ketaatan mereka menjalankan ibadah agama Islam. Sedangkan priyayi adalah suatu penggolongan sosial berdasarkan status kelas ekonomi yang dilawankan dengan wong cilik (Bachtiar 1973:80-90; Suparlan 1989:ix).

[4] Sering juga disebut dengan kenduren.

[5] Orang Jawa mempunyai pandangan yang kosmomonistis.  Terhadap kosmos (alam), manusia hanyalah satu titik kecil yang sudah pasti tempatnya.  Dalam hal ini manusia tidak mempunyai tempat khusus.  Dia tidak berbeda dengan kenyataan alam yang lain.  Kosmos sudah tertata dengan sendirinya jika titik-titik kecil dalam alam raya ini termasuk manusia berfungsi menurut status masing-masing.  Manusia sebagai makrokosmos (jagad cilik) harus menjaga dan mengusahakan keselarasan dengan makrokosmos (jagad gedhe) (Sutoyo 1990:37).

[6] Meskipun perlu hati-hati karena penelitian Geertz dilakukan pada tahun 1950-an sehingga sudah pasti banyak terjadi pergeseran-pergeseran.

[7] Dalam penelitian di Yogyakarta Mulder menanyakan kepada beberapa penduduk yang berasal dari Sumatera.  Mereka memuji-muji keterbukaan dan spontanitas teman-teman seasal mereka kalau dibandingkan dengan orang Jawa.  “Kami mengatakan pikiran kami dan tidak pernah menunduk-nunduk kepada orang lain.  Tetapi di Yogya sini, orang menyembunyikan diri mereka di belakang topeng senyum dan sopan santun.  Kamu tidak pernah tahu mereka cenderung ke mana; mereka mengatakan begini tetapi melakukan begitu.”  Bagi mereka, orang-orang Yogya semu dan bersembunyi di belakang penampilan. (Mulder 1999:156).

[8] Mengukur menurut dirinya sendiri artinya lakukan pada orang lain apa yang kamu ingin orang lain lakukan padamu (Mulder 1999:157).



Last Updated ( Friday, 04 December 2009 )
 
< Prev   Next >
 

Login Form






Lost Password?
No account yet? Register

Polls

Apa yang paling Anda inginkan ada di website Inti?
 

Pengunjung

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini21
mod_vvisit_counterKemarin37
mod_vvisit_counterMinggu ini21
mod_vvisit_counterBulan ini601
mod_vvisit_counterSemuanya15839
We have 17 guests online
Free Joomla Templates by JoomlaShine.com