






| PENGKOMUNIKASIAN INJIL |
|
|
|
| Written by Amos Sukamto | |||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| Sunday, 27 September 2009 | |||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
Page 7 of 7
Jurnal
[1] Lihat Clifford Geertz, The Religion of Java, (New York: The Free Press, 1969). Sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia Abangan, Santri, Priyayi Dalam Masyarakat Jawa, (Jakarta: Pustaka Jaya, 1989). [2] Daerah-daerah yang dianggap sebagai pusat kejawen kecuali wilayah Surakarta dan Yogyakarta adalah karisedenan Banyumas, Kedu, Madiun, Kediri dan Malang (Kodiran 1975:322). [3] Meskipun pembagian seperti ini banyak mendapat kritik dari para sarjana Indonesia karena ketiga golongan tersebut tidaklah bersumber pada satu sistem klasifikasi yang sama dimana abangan dan santri adalah penggolongan yang dibuat menurut tingkat ketaatan mereka menjalankan ibadah agama Islam. Sedangkan priyayi adalah suatu penggolongan sosial berdasarkan status kelas ekonomi yang dilawankan dengan wong cilik (Bachtiar 1973:80-90; Suparlan 1989:ix). [4] Sering juga disebut dengan kenduren. [5] Orang Jawa mempunyai pandangan yang kosmomonistis. Terhadap kosmos (alam), manusia hanyalah satu titik kecil yang sudah pasti tempatnya. Dalam hal ini manusia tidak mempunyai tempat khusus. Dia tidak berbeda dengan kenyataan alam yang lain. Kosmos sudah tertata dengan sendirinya jika titik-titik kecil dalam alam raya ini termasuk manusia berfungsi menurut status masing-masing. Manusia sebagai makrokosmos (jagad cilik) harus menjaga dan mengusahakan keselarasan dengan makrokosmos (jagad gedhe) (Sutoyo 1990:37). [6] Meskipun perlu hati-hati karena penelitian Geertz dilakukan pada tahun 1950-an sehingga sudah pasti banyak terjadi pergeseran-pergeseran. [7] Dalam penelitian di Yogyakarta Mulder menanyakan kepada beberapa penduduk yang berasal dari Sumatera. Mereka memuji-muji keterbukaan dan spontanitas teman-teman seasal mereka kalau dibandingkan dengan orang Jawa. “Kami mengatakan pikiran kami dan tidak pernah menunduk-nunduk kepada orang lain. Tetapi di Yogya sini, orang menyembunyikan diri mereka di belakang topeng senyum dan sopan santun. Kamu tidak pernah tahu mereka cenderung ke mana; mereka mengatakan begini tetapi melakukan begitu.” Bagi mereka, orang-orang Yogya semu dan bersembunyi di belakang penampilan. (Mulder 1999:156). [8] Mengukur menurut dirinya sendiri artinya lakukan pada orang lain apa yang kamu ingin orang lain lakukan padamu (Mulder 1999:157). |
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| Last Updated ( Friday, 04 December 2009 ) | |||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| < Prev | Next > |
|---|