






| Kepemimpinan Kristen |
|
|
|
| Written by Aripin Tambunan | |||||||||||
| Sunday, 27 September 2009 | |||||||||||
Page 1 of 9 Kepemimpinan Kristen dalam Menyikapi Posrealitas Di Era Posmodern Oleh Aripin Tambunan
Pendahuluan Realitas datang dari bahasa Latin yang diturunkan dari kata benda yakni “Res” dan dipergunakan dalam bahasa Inggris “reality”, istilah tersebut diperkenalkan oleh Duns Scotus ke dalam alam filsafat dengan mempergunakannya sebagai sinonim dari “being” (yang ada, pengada) (Bagus, 2002: 937). Salah satu arti dari lima arti yang diberikan Loren Bagus tentang realitas adalah, keadaan atau kualitas sesuatu yang real, atau benar-benar ada, mencakup segala sesuatu yang ada, (Ibid, hlm, 938). Aristoteles menjelaskan ada tiga tingkatan realitas, yaitu: yang ada, yang tidak ada, dan yang mungkin ada atau berpotensi ada. Yang ada adalah yang memang ada, dan yang tidak ada yang memang tidak ada. Tetapi yang mungkin ada, atau berpotensi ada adalah suatu realitas yang muncul oleh karena adanya causa efficiens[1] sebagai penggerak dan causa finalis sebagai tujuan yang menjadi arah seluruh kejadian, sehingga muncul realitas lain yang sebelumnya tidak ada. Realitas tersebut kini bermunculan di dunia ini. Realitas itu muncul karena causa effisiens pengetahuan modern (sciense) dan causa finalis untuk kemudahan hidup umat manusia. Yasraf Amir Piliang, menyebutkan hal tersebut sebagai dunia posrealitas atau kondisi matinya realitas, karena telah muncul suatu realitas baru (Piliang, 2004: 56). Sementara Umberto Eco, menyebutnya sebagai dunia hiperealitas, yang berarti dunia yang melampaui realitas[2], Jadi saat ini berkembang suatu dunia yang tidak dikenal sebelumnya, dunia yang muncul karena causa efesiensi dan causa finalis. Dunia tersebut adalah suatu dunia baru. Dunia baru tersebut muncul sebagai konsekuensi dari pemahaman baru tentang realitas yang ditimbulkan oleh perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) mutakhir. Akibatnya seperti yang dikatakan Piliang, tanda tidak lagi merefleksikan realitas, representasi tidak lagi berkaitan dengan kebenaran, informasi tidak lagi mengandung objektifitas pengetahuan. Tetapi dunia baru tersebut dibangun oleh berbagai bentuk distorsi realitas, permainan bebas tanda, penyimpangan makna, dan kesemuan makna (Ibid, 2004: 53).
Dampak yang ditimbulkan realitas baru (posrealitas) tersebut sebenarnya dapat terlihat di dalam posmodernitas[3]. Posmodernitas terjadi oleh karena dampak yang ditimbulkan oleh kemodernan. Sebab pada era modern (modern adalah nama lain dari pencerahan) dikatakan, bahwa ada pengetahuan yang pasti (tetap), makna bersifat tunggal. Itu sebabnya pencarian terhadap pengetahuan terus berkembang dan sangat meninggikan kebebasan manusia. Kebebasan tersebut telah membuang sifat otoritas dan menggantikannya dengan rasio. Akibatnya, manusia modern adalah manusia otonom, nasibnya tidak ditentukan oleh tradisi, doktrin atau komunitas, tetapi ia berhak untuk menentukan nasibnya sendiri.[4] Sedangkan postmodern pendekatannya dengan menggunakan rekonstruksi terhadap realitas. Artinya realitas dapat dibaca (tafsir) berbeda oleh orang yang berbeda, sehingga tidak ada makna tunggal di dunia. |
|||||||||||
| Last Updated ( Friday, 04 December 2009 ) | |||||||||||
| < Prev | Next > |
|---|