






| Teologi Filosofi Penderitaan |
|
|
|
| Written by Aripin Tambunan | ||||||
| Sunday, 27 September 2009 | ||||||
Page 1 of 4 TEOLOGI-FILOSOFI PENDERITAAN Oleh Aripin Tambunan
Pendahuluan Penderitaan! Darimana asalnya? Pertanyaan ini sering dipertanyakan, baik oleh mereka yang memiliki pengetahuan (science), maupun mereka yang tidak berpendidikan. Pertanyaan tersebut wajar dipertanyakan, mengingat banyaknya penderitaan yang terjadi dan menimpa umat manusia. Namun jawaban atas pertanyaan tersebut sering mendiskreditkan Tuhan sebagai pencipta dengan mengatakan, ”Tuhanlah sumber dari kejahatan dan penderitaan.” Jawaban tersebut didasari atas pemahaman bahwa Tuhan itu omniscience dan omnipotence yang berarti mengetahui segala sesuatu dan mampu melakukan segala sesuatu. Aksioma tersebut berimplikasi pada, jika Ia Mahatahu dan mengetahui segala sesuatu, berarti Ia tahu bakal adanya kejahatan yang dapat menimbulkan penderitaan bagi umat manusia; namun Ia tidak mencegahnya. Tentu itu akan menjadi lebih kontradiktif dengan sifat-Nya yang Mahakasih. Ia begitu mengasihi umat manusia, tetapi Ia membiarkan manusia yang Ia kasihi tersebut ada dalam penderitaan. Lebih lanjut lagi, ”jika Tuhan itu Mahabaik, mengapa ia mentolerir kejahatan, penderitaan di muka bumi ini?” Berarti ada ketidakbaikan di dalam ke mahabaikan Yang Mahabaik itu. Betulkah demikian? Sebab itu, barangkali ada baiknya penderitaan ditinjau dari sudut pandang teologi-filosofis, untuk dapat menemukan jawaban yang dapat dipertanggungjawabkan secara iman dan rasio (reason). Pendekatan Teologi-filosofis Filsafat dalam mencari kebenaran didasarkan pada rasio. Karena kerangka pikir filsafat dalam mencari kebenaran adalah, dengan mempertanyakan segala sesuatu, seperti misalnya, mengapa terjadi alam semesta? Apakah realitas segala sesuatu? Jika dipakai rumusan Descartes, segala sesuatu harus diragukan, tetapi diragukan bukan untuk jadi skeptis; melainkan agar kebenaran itu menjadi jelas dan terpisah. Sebab memang filsafat –seperti pendapat Plato dalam buku Republik- tidak lain daripada usaha mencari kejelasan dan kecermatan secara gigih yang dilakukan secara terus menerus, (Plato, 2002: 8). Lalu pada akhirnya, filsafat membawa kita kepada pemahaman yang lebih rasional terhadap sesuatu. Oleh sebab itu, Secara sederhana, tujuan filsafat adalah ”mengumpulkan pengetahuan manusia sebanyak mungkin, mengajukan kritik dan menilai pengetahuan, menemukan hakekatnya, dan menerbitkannya serta mengatur semuanya itu di dalam bentuk yang sistematis,” (Kattsoff, 1992: 3). Jadi dapat disimpulkan kegiatan kefilsafatan adalah kegiatan pemikiran secara kritis. Teologi dalam mencari kebenaran didasarkan pada adanya wahyu dari Sang Pencipta yang menceritakan/ menjelaskan asal-mula segala sesuatu. Sebagaimana wahyu menjelaskan tetang asal-mula segala sesuatu, maka penjelasan itu haruslah diterima dengan sepenuhnya sebagai suatu kebenaran.[1] Sudah barang tentu dalam penerimaan tersebut harus di dasarkan pada iman. Iman di sini adalah iman yang memimpin rasio. Sama seperti yang diungkapkan dalam Ibrani 11: 3, ”karena iman, kita mengerti bahwa alam semesta telah dijadikan oleh Firman Allah, sehingga apa yang kita lihat telah terjadi dari apa yang tidak kita lihat” Dari teks tersebut dapat terlihat bahwa, iman terlebih dahulu baru pengertian (artinya iman memimpin rasio). Hal ini senada dengan apa yang diungkapkan oleh Einstein, iman tanpa rasio akan mati, dan rasio tanpa iman akan lumpuh. Berarti iman memerlukan rasio dan rasio juga memerlukan iman. Hubungan ini diungkapkan oleh Agustinus, merupakan hubungan yang kompleks. Namun meskipun demikian, bila ada satu pertentangan di dalamnya, maka pertentangan tersebut haruslah dimenangkan oleh iman dan bukannya rasio. Dua pendekatan yang berbeda ini seharusnya dapat disatukan dengan baik, sehingga di dapat kebenaran yang berdasarkan iman, tetapi juga kebenaran yang dapat dipertanggungjawabkan secara rasio. Kebenaran seperti ini akan di dapat melalui metoda teologi-filosofi[2], yang akan dipergunakan dalam pembahasan tentang penderitaan dalam tulisan ini. dengan asumsi, bahwa –seperti pandangan Kant- filsafat itu bersifat kritis dan konstruktif. Filsafat itu harus mengkritik segala bentuk pemikiran asali, tetapi bukan untuk menghancurkan melainkan untuk mengkonstruksi satu pemahaman yang baru. Sebab, kritik tanpa konstruksi akan menjadi hampa, kesia-siaan; konstruksi tanpa kritik akan menjadi buta. Dengan demikian pemahaman teologi yang adapun perlu mendapat perlakuan yang sama untuk dapat memunculkan teologi-filosofi. Teologi-filosofi akan membawa seseorang kepada iman yang dapat dipertanggungjawabkan, mengapa? Karena ketika seseorang beriman, ia harus mengerti mengapa ia beriman; dan karena ia mengerti mengapa ia beriman, maka ia dapat mempertanggungjawabkan imannya secara logis. Sebab itu, iman dan rasio merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Dan lagi 2 Korintus 10: 5, menyatakan bahwa orang Kristen harus membangun pemikiran yang baik dan menentang yang keliru. Tanpa penguasaan filsafat, penentangan ini tidak mungkin dilaksanakan. Apalagi menurut Kolose 2: 8, tidak melarang orang Kristen untuk berfilsafat, tetapi yang dilarang atau harus dihindari adalah filsafat kosong (Gnostik). Karena itu, agar orang Kristen tahu filsafat yang kosong, maka ia harus memahami filsafat secara benar. Orang Kristen yang jatuh pada filsafat kosong, adalah mereka yang tidak memahami filsafat. Bagi para filsuf, kerangka pikir teologi-filosofis dapat menjembatani kekisruhan pemahaman mereka terhadap kekristenan (iman). Sebab jika dilihat para filsuf yang anti ’Tuhan dan kekristenan’, seperti: Comte, Feuerbach, Marx, Nietzsche, Freud, Heidegger, Sartre, Camus. Mereka semua kecewa dengan agama dan teologi yang berkembang pada waktu itu. Misalnya, Comte, mengatakan bahwa, agama baru harus dimunculkan dan agama baru tersebut ialah humanisme. Sebab perasaan religius dan kepercayaan-kepercayaan tradisional, hanya akan membuat manusia gagal. Itu sebabnya ia mengatakan takdir manusia ada di tangannya sendiri dan bukan di tangan Tuhan; seperti keyakinan yang pada waktu itu ia pahami. Demikian juga dengan Nietzshe, ia mengatakan filsafat modern (skeptisisme epistemologi) adalah anti Kristen, (Nietzshe, 2002: 55-72). Hal tersebut ia utarakan karena asumsi bahwa, agama telah berubah peran menjadi tujuan akhir dan kemutlakan; dan bukan lagi menjadi sarana. Akibatnya agama telah dipakai oleh para pemimpin agama sebagai alat otoritas, dan sebagai alat penjamin ketenangan mereka sendiri. Dengan demikian, maka agama telah menyimpang dari maksud para filsuf, yaitu sebagai sarana mendidik dan mengembangbiakan. |
||||||
| Last Updated ( Friday, 04 December 2009 ) | ||||||
| < Prev | Next > |
|---|