






| Spiritualitas Kristen Kontemporer |
|
|
|
| Written by Bambang H. Widjaja | ||||||||||
| Tuesday, 29 September 2009 | ||||||||||
Page 8 of 8 Pertama, pengenalan terhadap pribadi Tuhan ini bukan bersifat sekedar suatu pengetahuan kognitif, namun mencakup di dalamnya relasi yang menyentuh seluruh dimensi kemanusiaan kita. Sehingga dengan demikian hubungan dengan Tuhan tersebut tidak bersifat parsial, namun bersifat holistik. Pengenalan tersebut juga berdasarkan acuan obyektif yaitu Kitab Suci dan pribadi Kristus yang bersifat historikal. Sebab tanpa acuan obyektif, maka tak akan mungkin bagi kita untuk mengembangkan moralitas. Hal ini sangat mudah untuk dipahami, sebab tanpa acuan kebenaran yang absolut tidak mungkin dikembangkan suatu moralitas yang universal. Kedua, pengalaman dengan Tuhan ini tak dapat diabaikan, sebab secara praksis dalam konteks masyarakat postmodern faktor pengalaman sangatlah penting. Di sisi lain pengalaman ini juga menegaskan bahwa Tuhan yang dari padanya kehidupan manusia bersumber bukanlah sekedar suatu konsep, namun benar-benar suatu pribadi yang ada dan masih terus berkarya di dunia sampai saat sekarang. Pengalaman tersebut haruslah dalam konteks pribadi, sebab Tuhan menghargai manusia sebagai pribadi individual, namun juga harus dalam konteks komunal, sebab bukan saja hal tersebut merefleksikan sifat Trinitarian Tuhan namun juga hanya melaluinya transformasi kehidupan dapat terjadi. Ketiga, transformasi kehidupan oleh karena pengenalan dan pengalaman bersama Tuhan tersebutlah yang akan membawa perubahan trancendental dalam kehidupan manusia. Dengan kata lain, melaluinyalah manusia akan mengalami perubahan untuk mencapai panggilan dirinya yang sejati. Keempat, relasi dengan Tuhan baik oleh pengenalan dan pengalaman bersama dengan Dia tersebut harus termanifestasikan dalam pola pikir dan kehidupan sehari-hari, sebab hanya dengan demikian barulah dapat dikatakan bahwa relasi tersebut bersifat otentik. Manifestasi spiritualitas ini bukan hanya dalam sebatas kehidupan beribadah, namun dalam kehidupan sehari-hari di tengah masyarakat, dalam dunia kerja, dalam dunia berumah tangga, juga dalam dunia politik dan budaya.
Penutup
Dengan mengemukakan dua aliran spiritualitas di atas, yaitu spiritualitas baru dan spiritualitas Kristen kontemporer, kita dapat menarik beberapa kesimpulan sebagai berikut: Pertama, berkembangnya minat orang terhadap spiritualitas merupakan pintu untuk membawa orang-orang datang kepada pengenalan yang dinamis dan transformatif dengan Tuhan. Kedua, para pengikut Kristus perlu memperdalam pemahamannya tentang spiritualitas Kristiani sehingga tidak terjebak ke dalam sinkretisme yang pada gilirannya justru akan mengaburkan nilai-nilai spiritualitas yang dianutnya. Ketiga, diperlukan ekplorasi yang lebih mendalam dan komprehensif tentang upaya untuk memanifestasikan spiritualitas Kristen dalam setiap aspek dunia sehari-hari, sehingga dengan demikian setiap pengikut Kristus akan menghidupi panggilan kristianinya secara otentik.
|
||||||||||
| Last Updated ( Friday, 04 December 2009 ) | ||||||||||
| < Prev | Next > |
|---|