Waktu Hari ini

Statistics

OS: Linux m
PHP: 5.2.9
MySQL: 5.0.92-community-log
Time: 03:21
Caching: Disabled
GZIP: Enabled
Members: 59
News: 151
Web Links: 9
Visitors: 71598
H o m e arrow Administrasi arrow Mandat Penciptaan

meskipun masih dalam tahap pengembangan websit STT INTI yang baru sudah dapat dikunjungi di www.sttinti.com
Mandat Penciptaan PDF Print E-mail
Written by Anthony Y.F. Loke   
Tuesday, 13 October 2009
Article Index
Mandat Penciptaan
Page 2
Page 3
Page 4
Page 5
Page 6
Page 7
Page 8
Page 9
Page 10

MANDAT PENCIPTAAN DALAM KEJADIAN 1&2

(THE CREATION MANDATE IN GENESIS 1&2)[1]

Anthony Y.F. Loke

 

Pendahuluan

      Dalam pidatonya yang sangat legendaris di hadapan the American Academy of Arts and Sciences pada tahun 1966, Lynn White, Jr., seorang ahli sejarah, menuntut pertanggung-jawaban iman Kristen, yang menurutnya ‘menanggung beban bersalah yang besar’ terhadap krisis lingkungan hidup sekarang ini.[2] Meskipun keabsahan kesimpulan Lynn White, Jr. masih terus dipertanyakan, sesungguhnya terdapat kebenaran di balik pernyataannya itu. Pecinta lingkungan yang anti Kristen sering mengasosiasikan para misionari Kristen, guru Injil dan para pendeta dengan kelompok penjajah, agen-agen kolonialisme dan pedagang, yang dengan biadab dan serakah ‘memperkosa’ dan meng-hancurkan sistem lingkungan di wilayah kolonial. Nampaknya tidaklah terlalu keliru untuk mengatakan bahwa sebagian besar organisasi Kristen juga tidak terlalu peduli dengan dampak lingkungan, budaya dan ekonomi yang ditimbulkan oleh krisis lingkungan yang sedang terjadi sekarang ini. Tentulah ada beberapa institusi agamawi yang telah menyuarakan keprihatinan terhadap krisis lingkungan, namun proses kerusakan terjadi jauh lebih cepat dari keprihatinan tersebut. Pada tahun 1972 di Stockholm, saat dilangsungkannya Konferensi Perserikatan Bangsa-Bangsa mengenai lingkungan hidup manusia, Dr. Elfan Rees, mewakili Komisi Gereja dan Isu-Isu Internasional dari Dewan Gereja se-Dunia (World Council of Churches), mengatakan di hadapan Ketua dari konferensi ini:

 

 

 

Saya mengakui, Bapak Ketua Yang Mulia, bahwa gereja-gereja sepertinya terlalu lambat dalam menyadari dampak yang mengerikan dari masalah ini. Yang Mulia telah menyadarkan kami, dan dengan demikian telah menyalakan api yang kami tidak dapat padamkan. Kami akan mengikuti pimpinan dan bimbingan Yang Mulia. Kami akan mengingatkan Yang Mulia, jika Yang Mulia berhenti dalam memimpin dan membimbing kami; bahkan kami akan mengambil keputusan untuk maju memimpin, jika Yang Mulia berhenti menyuarakan pesan ini.[3]

      Kata-kata di atas nampak seperti ungkapan yang gagah berani, namun demikian untuk merealisasikan kata-kata tersebut, dimana gereja dengan serius memperhatikan permasalahan lingkungan, dibutuhkan masa yang panjang sekali. Dalam kenyataannya, berapa banyak gereja yang telah berperan dalam melanjutkan kepemimpinan Dr. Rees, ketika banyak organisasi sekuler mulai mundur? Hari-hari ini, kata-kata Eco-Theology, Eco-Justice, Creation Spirituality, Christian Stewardship dan Eco-Feminism menjadi ujung tombak dari banyak agenda di berbagai denominasi gereja.[4] Jika ungkapan-ungkapan di atas sudah tidak lagi asing di telinga kita, maka sekarang kita juga mulai mendengar ungkapan-ungkapan baru, seperti Green Theology, Spaceship Earth, Earth Ethics, Earth Summit, dan Earth Charter. Tulisan-tulisan Kristen mengenai topik-topik di atas nampak menjamur saat ini.[5] Apa yang telah menyebabkan perubahan yang sangat tiba-tiba di dalam pemikiran gereja? Bukankah pada kenyataannya, sejak dahulu gereja cenderung lambat di dalam mengadopsi konsep mengenai teologi lingkungan dan aktivitas-aktivitas agamawi yang berhubungan dengan lingkungan? Mengapa gereja di masa lalu tidak peduli terhadap isu lingkungan? Apa sebabnya?    


Last Updated ( Friday, 04 December 2009 )
 
< Prev   Next >
 
Free Joomla Templates by JoomlaShine.com