Waktu Hari ini

Statistics

OS: Linux m
PHP: 5.2.9
MySQL: 5.0.92-community-log
Time: 03:22
Caching: Disabled
GZIP: Enabled
Members: 59
News: 151
Web Links: 9
Visitors: 71598
H o m e arrow Administrasi arrow Mandat Penciptaan

meskipun masih dalam tahap pengembangan websit STT INTI yang baru sudah dapat dikunjungi di www.sttinti.com
Mandat Penciptaan PDF Print E-mail
Written by Anthony Y.F. Loke   
Tuesday, 13 October 2009
Article Index
Mandat Penciptaan
Page 2
Page 3
Page 4
Page 5
Page 6
Page 7
Page 8
Page 9
Page 10

Kesimpulan

      Diskusi kita yang singkat mengenai pemahaman ulang terhadap Kejadian 1 dan 2 telah menunjukkan bahwa kesalahpahaman yang paling utama dari konsep alkitabiah mengenai ‘berkuasa, menaklukkan dan hubungan manusia dengan ciptaan’ muncul di masa lalu karena pembacaan dan penafsiran Alkitab yang tidak pada tempatnya. Telah terbukti bahwa Kejadian 1 dan 2 tidak pernah secara eksplisit meme-rintahkan umat manusia untuk mengeksploitasi dan merusak bumi, seperti yang secara menyedihkan telah terjadi dalam sejarah umat manusia. Sebaliknya umat Tuhan mendelegasikan dan mensharingkan kekuasaan kepada manusia untuk mengatur alam semesta dan seluruh ciptaan ini dengan bijaksana. Karena manusia itu adalah mitra Tuhan, yang dicipta sesuai dengan gambar dan rupa Allah. Karenanya, umat manusia tidak seharusnya berbuat sesuatu yang kurang dibandingkan dengan apa yang telah menjadi rencana dan tujuan Tuhan bagi seluruh ciptaan-Nya. Adalah keputusan bebas Sang Pencipta untuk menciptakan umat manusia dan seluruh ciptaan lainnya; umat manusia direncanakan-Nya untuk memiliki hubungan dengan ciptaan lainnya dalam basis yang nyata dan saling memberi manfaat. Pada saat manusia melupakan betapa pentingnya hubungan ini (yang dimandatkan oleh Tuhan), maka umat manusia sendiri yang akan menuai bencana dari keserakahan, kebodohan dan keegoisannya. Ciptaan dan alam semesta akan seterusnya mengeluh di bawah kondisi bertambahnya dosa-dosa manusia. Keluhan ini akan berakhir jika kita dapat merumuskan kembali mandat alkitabiah untuk menjadi manajer dan pelayan yang bijaksana atas alam semesta dan segala ciptaan.

 



[1] Disampaikan dalam Seminar-Lokakarya ATESEA/SEAGST (2 Oktober 2006): Preserving Mother Earth: Our Theological Concern. Artikel ini diterjemahkan oleh Ery Prasadja.

[2] Lihat artikel berikut ini, yang memuat pidato legendaris tersebut: L. White Jr, ‘The Historical Roots of our Ecological Crisis’, Science 155 (1967) 1203-07

[3] Komisi Gereja dan Isu-isu Internasional dari Dewan Gereja se-Dunia, The Churches

in International Affairs: Reports 1970-1973 (WCC: Geneva, 1974) 144

[4] Pembaca dapat melihat pada beberapa literatur berikut ini: R.R. Ruether, Gaia

and God: An Ecofeminist Theology of Earth Healing (San Francisco: Harper

SanFrancisco, 1992); M. Fox, Original Blessing: A Primer in Creation Spirituality (Santa Fe: Bear and Co, 1983); dan A.V. Rossi, ‘Addition, Apocalypse, Asceticism: Choices for Christian Ecology’, Firmament 2.3 (1990) 2-17

[5] Lihat, sebagai contohnya: R. Elsdon, Greenhouse Theology; dan L. Kearns, ‘The Context of Eco-Theology’

[6] Semua kutipan diambil dari Revised Standard Version (Catatan: Penterjemah tidak menggunakan LAI sebagai referensi, tetapi menterjemahkan teks Alkitab yang tercantum dalam artikel ini)

[7] J. Stott, Issues Facing Christians Today (London: Marshall Pickering, 1986) 6-8

[8] Dewan Gereja se-Dunia menyelenggarakan sebuah konferensi yang berjudul: ‘Searching for the new Heavens and the new Earth’ pada tahun 1992 dengan agenda ini, meskipun Sven Andersen sangat percaya bahwa hubungan langsung antara konsep alkitabiah dan realita politik global adalah suatu kemustahilan. Lihat S. Andersen, ‘Global Ethics and Salvation’, dalam Happiness, Well-Being and the Meaning of Life: A Dialogue of Social Science and Religion, Ed. V. Brummer  & M. Sarot (Kampen: Kok Pharos, 1996) 133-43

[9] L. Kearns, ‘Saving the Creation: Christian Environmentalism in the United States’. Sociology of Religion 57.1 (1996) 55-70, here 55

[10] W.A. Dyrness, The Earth is God’s: A Theology of American Culture. (Faith and Culture Series; Maryknoll: Orbis, 1997) 27

[11] White juga memulainya dari dua pasal yang pertama dalam kitab Kejadian. Ia beranggapan  bahwa  konsep  Yudaisme  dan  Kristen  mengenai  ‘berkuasalah’ bertanggung  jawab  sebagai  akar masalah yang berakibat kepada kehancuran lingkungan,  sikap  anti  lingkungan, dan perspektif Barat yang membenarkan bahwa  Tuhan itu memerintahkan manusia untuk mengeksploitasi alam demi kemakmuran manusia

[12] Beberapa ilmuwan setuju bahwa seringnya contoh-contoh mengenai alam di dalam  perumpamaan  Tuhan  Yesus  menunjukkan  betapa pentingnya pemahaman  dan  teologi  ciptaan.  Namun  demikian  argumen  seperti  itu  bukan  merupakan bagian dari artikel ini.

[13] P. Bird, ‘Genesis 1-3 as the Source for Contemporary Theology of Sexuality’. Ex Auditu 3 (1987) 31f.

[14] Karenanya,  dapat  dimengerti  bahwa  Perjanjian  Lama,  sepertinya memiliki lebih  banyak  teks yang berhubungan dengan alam ciptaan, jika dibandingkan dengan Perjanjian Baru. Misalnya, PL: Ayub 26.2-14; Mazmur 96.5, 104; Yesaya 37.16, 40.12-17; dan Yeremia 10.2-13. PB: Yohanes 1.1-3; Roma 1.20, 11.36; 1 Korintus 8.5-6; Kolose 1.15-17; dan Wahyu 4.11

[15] Kata Ibrani tobh  memiliki  arti  yang sangat luas: ‘baik, menyenangkan, praktis, sesuai,  indah,  atau pantas.’ Di dalam narasi penciptaan yang pertama, mungkin artinya  adalah  ‘pantas’  (appropriate)  atau  dapat  juga  menjelaskan  aspek fungsional,  ‘baik  untuk  sesuatu’  cf.  Gerhard  von Rad, Genesis. (OTL; ET; London: SCM, 1972) 61, ‘completely perfect

[16] Jon Levenson lebih senang untuk mengatakan penciptaan ‘without opposition’

daripada creatio ex nihilo. J. Levenson, Creation and the Persistence of Evil (Princeton: Princeton University Press, 1988) 122

[17] Beberapa usulan mencakup: [1] Konsep Tritunggal, dimana ketiga pribadi Allah hadir dalam peristiwa penciptaan (Bapa-Bapa Gereja Mula-Mula), [2] Konsep bahwa Tuhan berbicara kepada makhluk-makhluk surgawi (Philo, Delitzsch), [3] ‘kita’ sebagai simbol kemuliaan yang tidak terhingga (meskipun posisi ini biasanya sudah ditinggalkan dan diabaikan, seperti yang disampaikan oleh Joüon), [4] ‘kita’ menunjuk pada bentuk plural dari Elohim yang tidak biasa (Driver), dan [4] kata majemuk yang menjelaskan dengan lebih terinci (the plural of deliberation in the cohortative   Westermann)

[18] C. Westermann, Genesis 1-11: A Commentary (ET; London: SPCK, 1984) 114. Artikel ini sangat berhutang kepada komentar-komentar Westermann terhadap teks-teks Alkitab yang mencerahkan. Gerhard von Rad, Genesis, 57 juga menemukan bahwa Tuhan turut terlibat dengan intim dan intensif pada saat menciptakan manusia, dibanding dengan proses penciptaan lainnya

[19] Westermann, Genesis, 146. Juga J. Skinner, Genesis, ICC (Edinburgh: T & T Clark, 1930) 30-32; dan S.R. Driver, The Book of Genesis (Westminster Commentaries; London: Methuen & Co, 1938) 14-15

[20] NIDOTTE, 3:810; von Rad, Genesis, 57

[21]NIDOTTE, 1:967-70; von Rad, Genesis, 57-58. Kata benda ini muncul berulang kali dalam penglihatan Yehezkiel mengenai bala tentara Tuhan. Kata benda ini dapat berarti sangat luas dari sekedar ‘kemiripan,’ ‘keserupaan yang nyata,’ maupun ‘refleksi yang lemah.’

[22] Untuk diskusi yang lebih lengkap, lihat W.A. Dyrness, ‘The Imago Dei and Christian Aesthetics’, JETS 15.3 (1972) 161-72. Lihat juga J. Richard Middleton, The Liberating Image: The Imago Dei in Genesis 1 (Grand Rapids: Brazos, 2005) untuk diskusi mengenai metafora teologi rupa Allah (the image of God) yang sangat penting untuk studi di bidang seksualitas dan tanggung jawab terhadap lingkungan. Untuk survai historis dari penafsiran Kejadian 1.26-27, lihat Westermann, Genesis, 147-55

[23] Kata kerja ini dapat berartito tread over the grapes’ (memeras anggur dengan menginjak-injak – Yoel 3.13), ‘menundukkan’ (Bilangan 24.19), atau mengenai ‘kekuasaan raja’ (1 Raj 5.4; Mazmur 110.2). Beberapa ilmuwan, seperti Wildberger telah menemukan bahwa asal muasal kata ini adalah dari bahasa halus (bahasa istana) di Babel dan Mesir. Kata ini memiliki hubungan dengan konteks istana. Yang unik dalam teks Kejadian 1.26b adalah penggunaannya untuk menunjuk-kan hubungan manusia dengan binatang – bukan hubungan antar manusia!

[24] Konsep ini telah mendorong beberapa orang Kristen untuk membangun argumen anti makan daging.. Lihat: T. Cooper, Green Christianity (London: Hodder & Stoughton, 1990) dan juga artikel ‘Evangelicals Embrace Vegetarian Diet’. Christianity Today Vol. 43.10 (1999) 21. Beberapa ilmuwan melihat bahwa batasan makan yang bersifat vegetarian baru diberikan setelah masa banjir besar (Kej 9.3). Diskusi menyeluruh mengenai topik ini adalah di luar tanggung jawab dari artikel ini

[25] Lihat, contohnya: C. DeWitt, (ed.) The Environment and the Christian; dan W. Granberg-Michaelson, (ed.) Tending the Garden: Essays on the Gospel and the Earth.

[26]NIDOTTE, 2:596. Ini adalah sebuah kata kerja yang termasuk dalam kelom-pok arti ‘menguasai’ atau ‘penundukan.’ Bentuk Qal digunakan untuk budak-budak (Yeremia 34.11), sedangkan bentuk Niphal digunakan untuk melukiskan wilayah yang ditaklukkan (Bilangan 32.22). Lihat juga Westermann, Genesis, 161

[27]Contohnya, P. Harrison, ‘Subduing the Earth: Genesis 1, Early Modern Science and the Exploitation of Nature’. Journal of Religion 79.1 (1999) 86-109. Lihat juga B.G. Toews, Man's Subjugation of the Earth in Genesis 1:28. (Tesis M.Th yang tidak diterbitkan) Theological Research Exchange Network (TREN): Theses & Dissertations (1998) p1-122

 

[28] Kritik literatur mengatakan bahwa kitab Kejadian pasal 2-3 pada mulanya berasal dari sumber literatur yang terpisah (J), yang lain dari Kejadian 1 (P). Hanya sedikit ilmuwan (misalnya. Cassuto) yang membangun argumen yang sebaliknya, yaitu bahwa kedua narasi tersebut sudah sejak awalnya merupakan satu kesatuan. Sekali lagi, diskusi mengenai hal ini juga di luar jangkauan artikel ini.

[29] Westermann, Genesis, 192

[30] Westermann, Genesis, 192

 

[31] Westermann, Genesis, 221

[32] C. Adams, ‘Live from the Earth Summit: Why Should We Care About the Earth Charter?’ AllSouthWest News Service August 27th 2002. Lihat: http://www. freerepublic.com/focus/f-news/740841/posts Diakses pada tanggal 7 Agustus 2006



Last Updated ( Friday, 04 December 2009 )
 
< Prev   Next >
 
Free Joomla Templates by JoomlaShine.com