Waktu Hari ini

Statistics

OS: Linux m
PHP: 5.2.9
MySQL: 5.0.92-community-log
Time: 03:24
Caching: Disabled
GZIP: Enabled
Members: 59
News: 151
Web Links: 9
Visitors: 71598
H o m e arrow Administrasi arrow Agama dan Modernitas

meskipun masih dalam tahap pengembangan websit STT INTI yang baru sudah dapat dikunjungi di www.sttinti.com
Agama dan Modernitas PDF Print E-mail
Written by Amos Sukamto   
Tuesday, 13 October 2009
Article Index
Agama dan Modernitas
Page 2
Page 3
Page 4
Page 5
Page 6
Page 7

 

 



[1] Bahkan menurut Nurcholish Madjid, Rasulullah sendiri paling jauh hanya sampai ke Sidrat al-Muntahâ (‘Pohon [Kebenaran] yang penghabisan’), tidak sampai ke Zat Allah Swt. Itu sendiri (2008:xii).

[2] Dalam tulisan ini sebutan Nurcholish Madjid dan Cak Nur akan dipakai bergantian.

[3] 25 Muharram 1358.

[4] Lihat lebih lengkap dalam Dawam Rahardjo, ‘Dunia Pesantren dalam Peta Pembaharuan,’ dalam Dawam Rahardjo (ed.) Pesantren dan Pembaharuan, (Jakarta: LP3ES, 1985); Siti Fatimah, ‘Modernism and The Contextualization of Islamic Doctrines: The Reform of Indonesian Islam Proposed by Nurcholish Madjid,’ Tesis Master of Arts pada Institute of Islamic Studies, McGill University Montreal Canada, 1999.

[5] Istilah ini untuk membedakan dengan Muslim Nominal (abangan) yaitu muslim yang tidak mengerjakan kewajiban keagamaannya, sinkretis dan sangat kuat dipengaruhi oleh tradisi dan ritual keyakinan lokal. Seperti dalam kategori Antropolog kondang asal Amerika Serikat bernama Clifford Geertz yang membagi masyarakat Jawa pada tiga sub-kultur yaitu Santri, Priyayi dan Abangan (lihat lebih detail dalam Clifford Geertz, The Religion of Java, London: The University of Chicago Press, 1960).

[6] Nama aslinya Abu Thahrir tetapi setelah pergi naik haji ke Mekkah seperti kebanyakan Muslim di Jawa setelah pergi naik haji menambah atau mengganti namanya, Suharto misalnya ditambah dengan Haji Muhammad Suharto, ayah Nurcholish Madjid berganti menjadi Abdul Madjid (Fatimah 1999:10).

[7] Menurut Fatimah pada masa itu di Pesantren ilmu pengetahuan sekular seperti huruf latin dan lainnya masih dianggap sebagai barang milik orang kafir (non-Islam) (Fatimah 1999:10-11).

[8] Pada tahun 1955 ketika Pemilu pertama kali diadakan di Indonesia N.U. menjadi partai politik tersendiri dan memisahkan diri dari Masyumi pada tahun 1952.  Pesantren Rejoso tempat Nurcholish Madjid nyantri merupakan pendukung partai N.U. sedangkan ayahnya tetap mendukung Masyumi, akibatnya Nurcholish Madjid sering di juluki sebagai anak Masyumi kesasar.  Pondok pesantren Gontor merupakan pendukung kuat Masyumi  (Fatimah 1999:17).

[9] Pakaian santri untuk laki-laki.

[10] Berbagai kritik yang ditujukan kepada pemikiran Nurcholish Madjid sebagai berikut: Endang Saifuddin Anshary, Kritik Atas Faham dan Gerakan ”Pembaharuan” Drs. Nurcholish Madjid, (Bandung: Bulan Sabit, 1973); H. M. Rasjidi, Koreksi terhadap Drs. Nurcholish Madjid tentang Sekularisasi, (Jakarta: Yayasan Bangkit, 1972); H. M. Rasjidi, Satu Koreksi Lagi Bagi Drs. Nurcholish Madjid, (Jakarta: DDII, 1973); dan Abdul Qadir Djaelani, Menelusuri Kekeliruan Pembaharuan Pemikiran Islam Nurcholish Madjid, (Bandung: Yadia, 1994).

[11] Bagi saya (Eka Darmaputera), ‘teologi kontekstual’ adalah ‘teologi’ itu sendiri.  Artinya, teologi hanya dapat disebut sebagai teologi apabila ia benar-benar kontekstual’ (Darmaputera 2004:9).

[12] Menurut Dawam Rahardjo ada dua persoalan pokok yang dihadapi oleh golongan Modernis, khususnya kalangan generasi muda pada waktu itu.  Pertama, mereka harus menanggapi dan mengambil sikap terhadap gagasan modernisasi yang mendesak masyarakat Indonesia.  . . . Kedua adalah, golongan sosial politik Islam perlu mengambil sikap apakah mereka ikut serta dalam proses pembangunan, dimana pemerintah Orde Baru berperan sebagai agen dan sekaligus juga pemimpin (2008:xxii).

[13] Indonesian history, for Muslims especially the militant, has been an irony. In the political sphere, throughout history, Indonesian Muslims, who are the majority of the Indonesian population, were characterised as ‘outsiders’ (McVey 1983:199–225). Indonesian Muslims have been characterised, borrowing Wertheim's (1980) term, as a ‘majority with [a] minority mentality.’ Indeed, as Drakeley (1992) puts it, throughout the New Order (Orde Baru) period Islam in Indonesia has occupied a position as political outsider, ‘despite being a crucial political midwife at its birth’ (p.5) [Lihat  Rifki Rosyad, A Quest for True Islam: A Study of the Islamic Resugerence Movement Among the Youth in Bandung, Indonesia, (Australia: ANU Press, 2006).].

[14] Baca dalam K. A. Steenbrink, “Indonesia: A Christian  Minority in a Strong Position”  dalam F. J. Verstraelen, Missiology: An Ecumenical Introduction, (Grand Rapids, Michigan: William B. Eerdmans Publishing Company, 1995).

[15] Untuk informasi lebih lengkap tentang Political and Religious Landscape Indonesia  pada tahun 1970-an lihat Ann Kull, Piety and Politics: Nurcholish Madjid and His Interpretation of Islam in Modern Indonesia, (Lund, Sweden: Department of History and Anthropology of Religions Lund University, 2005).



Last Updated ( Friday, 04 December 2009 )
 
< Prev   Next >
 
Free Joomla Templates by JoomlaShine.com