






| Masyarakat dan Kota |
|
|
|
| Written by Aripin Tambunan | ||||||||||||||
| Saturday, 24 October 2009 | ||||||||||||||
Page 12 of 12
Bibliographi
Berkhof, Louis. 1994, Teologi Sistematika. Jakarta: LRII Daldjoeni, N. 1998 Geografi Kota dan Desa, Bandung: Alumni. Dauglas, J. D. 1982, New Bible Dictionary. England: Intervarsity Press, Second Edition. Descartes, 1958 Philosopical Writings, New York: Modern Library Book. Ensiklopedi Alkitab Masa Kini, 1992, Jakarta: YKBK/ OMF Erickson, Millard J., 1993, Christian Teology. Grand Rapids: Baker Book House Pakpahan, Muctar, 2006 Ilmu Negara dan Politik, Jakarta: Bumi Intitama. Popper, Karl R., 2002 Masyarakat Terbuka dan Musuh-musuhnya, Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Ritzer, George, 2007 Teori Sosiologi Modern, Jakarta: Kencana. Rousseau, Jean Jacques (Terj. Vincent Bero), 2007 Du Contract Social (Perjanjian Sosial), Jakarta: Visi Media. The New International Webster’s Encyclopedic Dictionary, 2003 Columbia: Trident Press International Tilaar, H.A.R., 2002 Perubahan Sosial dan Pendidikan, Jakarta: Grasindo. Weber, Max, 2006 Etika Protestan & Spirit Kapitalisme, Yogyakarta: Pustaka Pelajar [1] Filsafat yang saya maksudkan di sini ialah sains, karena tanpa sains, tak ada filsafat. Yang ada hanya cara pandang dunia, demikian kata Allthusser. Lebih lanjut ia mengatakan, bahwa memang sudah umum, filsafat lahir berbarengan dengan lahirnya sains. Jadi sains dan filsafat tidak bias dipisahkan. Lihat Louis Althusser, Filsafat sebagai Senjata Revolusi, Yogyakarta: Resist Book, 2007. Dan memang sudah umum, bahwa filsafat lahir berbarengan dengan lahirnya sains [2] 2006: 76 [3] Jean Jacques Rousseau, (Terj. Vincent Bero), Du Contract Social (Perjanjian Sosial), (Jakarta: Visi Media, 2007), hal. 5. [4] T.B. Ihromi, Sosiologi Keluarga, (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2004), hlm. 30. [5] H.A.R. Tilaar, Perubahan Sosial dan Pendidikan, (Jakarta: Grasindo, 2002), hal., 8. [6] Page 915. [7] Karl R. Popper, Masyarakat Terbuka dan Musuh-musuhnya, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2002), hal.367. [8] manusia memiliki watak ingin memiliki segala sesuatu yang membuatnya bahagia. [9] manusia memiliki kecendrungan hewani (kejam, bengis, tamak, rakus, suka membunuh dan mengkhianati), terhadap sesamanya. [10] Manusia memiliki watak cinta kebenaran, kebaikan dan saling mencintai sesama manusia dan isi alam lainnya [11] Thiessen, Henry C. , Teologi Sistematika. (Malang: Gandum Mas, 1992), hal. 127 [12] Erickson, Millard J., Christian Teology. (Grand Rapids: Baker Book House, 1993), page 284 [13] Ibid., page 285 [14] Ibid., page 286 [15] Berkhof, Louis., Teologi Sistematika. Jakarta: LRII, 1994), hal. 126. [16] Erickson, Millard J., Christian Teology. (Grand Rapids: Baker Book House, 1993), page 286 [17] Ibid., page 289 [18] Elwell, Walter A., dd., Baker Encyclopedia of The Bible. (Grand Rapids: Baker Book House, 1995), page 1861. [19] Berkhof, Louis., Teologi Sistematika. Jakarta: LRII, 1994), hal. 128. [20] Thiessen, Henry C. , Teologi Sistematika. (Malang: Gandum Mas, 1992), hal. 130 [21] Berkhof, Louis., Teologi Sistematika. Jakarta: LRII, 1994), hal. 117. [22] Ensiklopedi Alkitab Masa Kini, (Jakarta: YKBK/ OMF, 1992), hal 134. [23] Ibid. [24] Berkhof, Louis., Teologi Sistematika. Jakarta: LRII, 1994), hal. 118. [25] Erickson, Millard J., Christian Teology. (Grand Rapids: Baker Book House, 1993), page 292. [26] George Ritzer, Teori Sosiologi Modern, (Jakarta: Kencana, 2007), hal 18-19. [27] Contoh kekacauan yang terjadi sebagai akibat dari gagasan metafisika adalah, manusia berpikir bahwa alam semesta terdiri dari hakekat-hakekat, sebab-sebab, dan substansi misterius, tetapi masih merupakan abstraksi yang tidak dapat dijelaskan secara ilmiah (empiris). Akibatnya, manusia salah berpikir yang mengakibatkan kekacauan pemikiran yang tentu berakibat kepada kekacauan perilaku social. [28] Contoh kekacauan yang terjadi sebagai akibat dari gagasan teologis adalah, alam semesta dianggap sebagai tatanan mitos spiritual, sehingga manusia memuja benda-benda fisik seakan mereka benda hidup guna keberuntungan manusia. Akibatnya, terjadi kekacauan pemikiran yang menimbulkan kekacauan sosial, karena seolah-olah takdir manusia ada pada benda-benda tersebut, pada hal menurut Comte, takdir manusia ada pada manusia (pemikiran) itu sendiri. [29]Comte membagi tiga tahap perkembangan intelektual manusia yaitu: Tahap teologis; adalah tingkat pemikiran manusia bahwa semua benda di dunia mempunyai jiwa dan itu disebabkan oleh suatu kekuatan yang berada di atas manusia. Tahap metafisis; pada tahap ini manusia menganggap bahwa didalam setiap gejala terdapat kekuatan-kekuatan atau inti tertentu yang pada akhirnya akan dapat diungkapkan. Oleh karena adanya kepercayaan bahwa setiap cita-cita terkait pada suatu realitas tertentu dan tidak ada usaha untuk menemukan hukum-hukum alam yang seragam. Tahap positif; adalah tahap dimana manusia mulai berpikir secara ilmiah, di sini manusia ingin menemukan hokum yang dapat diperiksa secara empiris (dikutip dari Piotr Sztompka, Sosiologi Perubahan Sosial, Jakarta: Prenada, 2004). [30] Ibid. [31] 2004: 22. [32] Ibid., hal. 36-41. [33] Max Weber, Etika Protestan & Spirit Kapitalisme, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2006), hal. 98. [34] Ibid. [35] ibid [36] Descartes, Philosopical Writings, New York: Modern Library Book), page14 [37] Bambang Q-Anees & Radea Juli A. Hambali, Filsafat Untuk Umum, (Jakarta: Kencana, 2003), hal. 322. [38] Lihat Jurnal Transformasi Vol 3 nomor 2, Agustus 2007. Pada tulisan Aripin Tambunan, Varietas Baru Manusia, Homo Ingenium Praeter Impius. [39] Ganguan mental ini merupakan totalitas kesatuan dari ekspresi mental yang patologis terhadap stimuli social, dikombinasikan dengan factor-faktor penyebab sekunder lainnya. (Lihat, Kartini Kartono, Patologi Sosial, Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2005.) [40] N. Daldjoeni, Geografi Kota dan Desa, (Bandung: Alumni, 1998), hal. 1. [41] Ibid., hal 3. [42]Vol 4, page 381. [43] Karena mengembangkan manusia, berarti akan mengembangkan kota. Manusia berkembang, maka kotapun akan berkembang. Jika kota dikembangkan dan manusia tidak, maka akan terjadi kota Sodom dan gomora. [44] N. Daldjoeni, Geografi Kota dan Desa, (Bandung: Alumni, 1998), hal. 1. [45] Karl R. Popper, Masyarakat Terbuka dan Musuh-musuhnya, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2002), hal. 413. |
||||||||||||||
| Last Updated ( Friday, 04 December 2009 ) | ||||||||||||||
| < Prev | Next > |
|---|