• www.inti-edu.net
  • www.inti-edu.net
  • www.inti-edu.net
  • www.inti-edu.net
  • www.inti-edu.net
  • www.inti-edu.net
  • www.inti-edu.net

Waktu Hari ini

Statistics

OS: Linux m
PHP: 5.2.9
MySQL: 5.0.92-community-log
Time: 03:29
Caching: Disabled
GZIP: Enabled
Members: 59
News: 151
Web Links: 9
Visitors: 71598

Syndicate

H o m e

meskipun masih dalam tahap pengembangan websit STT INTI yang baru sudah dapat dikunjungi di www.sttinti.com
Masyarakat dan Kota PDF Print E-mail
Written by Aripin Tambunan   
Saturday, 24 October 2009
Article Index
Masyarakat dan Kota
Page 2
Page 3
Page 4
Page 5
Page 6
Page 7
Page 8
Page 9
Page 10
Page 11
Page 12

 

 

 

Bibliographi

 

Berkhof, Louis.

            1994,   Teologi Sistematika. Jakarta: LRII

Daldjoeni, N.

1998    Geografi Kota dan Desa, Bandung: Alumni.

Dauglas, J. D.

            1982,   New Bible Dictionary. England: Intervarsity Press, Second Edition.

Descartes,

1958    Philosopical Writings, New York: Modern Library Book.

Ensiklopedi Alkitab Masa Kini,

            1992,   Jakarta: YKBK/ OMF

Erickson, Millard J.,

            1993,   Christian Teology. Grand Rapids: Baker Book House

Pakpahan, Muctar,

            2006    Ilmu Negara dan Politik, Jakarta: Bumi Intitama.

Popper, Karl R.,

            2002    Masyarakat Terbuka dan Musuh-musuhnya, Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Ritzer, George,

2007    Teori Sosiologi Modern, Jakarta: Kencana.

Rousseau, Jean Jacques (Terj. Vincent Bero),

2007    Du Contract Social (Perjanjian Sosial), Jakarta: Visi Media.

The New International Webster’s Encyclopedic Dictionary,

            2003    Columbia: Trident Press International

Tilaar, H.A.R.,

2002    Perubahan Sosial dan Pendidikan, Jakarta: Grasindo.

Weber, Max,

2006    Etika Protestan & Spirit Kapitalisme, Yogyakarta: Pustaka Pelajar



[1] Filsafat yang saya maksudkan di sini ialah sains, karena tanpa sains, tak ada filsafat. Yang ada hanya cara pandang dunia, demikian kata Allthusser. Lebih lanjut ia mengatakan, bahwa memang sudah umum, filsafat lahir berbarengan dengan lahirnya sains. Jadi sains dan filsafat tidak bias dipisahkan. Lihat Louis Althusser, Filsafat sebagai Senjata Revolusi, Yogyakarta: Resist Book, 2007.  Dan memang sudah umum, bahwa filsafat lahir berbarengan dengan lahirnya sains

[2] 2006: 76

[3] Jean Jacques Rousseau, (Terj. Vincent Bero), Du Contract Social (Perjanjian Sosial), (Jakarta: Visi Media, 2007), hal. 5.

[4] T.B. Ihromi, Sosiologi Keluarga, (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2004), hlm. 30.

[5] H.A.R. Tilaar, Perubahan Sosial dan Pendidikan, (Jakarta: Grasindo, 2002), hal., 8.

[6] Page 915.

[7] Karl R. Popper, Masyarakat Terbuka dan Musuh-musuhnya, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2002), hal.367.

[8] manusia memiliki watak ingin memiliki segala sesuatu yang membuatnya bahagia.

[9] manusia memiliki kecendrungan hewani (kejam, bengis, tamak, rakus, suka membunuh dan mengkhianati), terhadap sesamanya.

[10] Manusia memiliki watak cinta kebenaran, kebaikan dan saling mencintai sesama manusia dan isi alam lainnya

[11] Thiessen, Henry C. , Teologi Sistematika. (Malang: Gandum Mas, 1992), hal. 127

[12]   Erickson, Millard J., Christian Teology. (Grand Rapids: Baker Book House, 1993), page 284

[13] Ibid., page 285

[14] Ibid., page 286

[15] Berkhof, Louis., Teologi Sistematika. Jakarta: LRII, 1994), hal. 126.

[16] Erickson, Millard J., Christian Teology. (Grand Rapids: Baker Book House, 1993), page 286

[17] Ibid., page 289

[18] Elwell, Walter A., dd.,  Baker Encyclopedia of The Bible. (Grand Rapids: Baker Book House, 1995), page 1861.

[19] Berkhof, Louis., Teologi Sistematika. Jakarta: LRII, 1994), hal. 128.

[20] Thiessen, Henry C. , Teologi Sistematika. (Malang: Gandum Mas, 1992), hal. 130

[21] Berkhof, Louis., Teologi Sistematika. Jakarta: LRII, 1994), hal. 117.

[22] Ensiklopedi Alkitab Masa Kini, (Jakarta: YKBK/ OMF, 1992), hal 134.

[23] Ibid.

[24] Berkhof, Louis., Teologi Sistematika. Jakarta: LRII, 1994), hal. 118.

[25] Erickson, Millard J., Christian Teology. (Grand Rapids: Baker Book House, 1993), page 292.

[26] George Ritzer, Teori Sosiologi Modern, (Jakarta: Kencana, 2007), hal 18-19.

[27] Contoh kekacauan yang terjadi sebagai akibat dari gagasan metafisika adalah, manusia berpikir bahwa alam semesta terdiri dari hakekat-hakekat, sebab-sebab, dan substansi misterius, tetapi masih merupakan abstraksi yang tidak dapat dijelaskan secara ilmiah (empiris). Akibatnya, manusia salah berpikir yang mengakibatkan kekacauan pemikiran yang tentu berakibat kepada kekacauan perilaku social.

[28] Contoh kekacauan yang terjadi sebagai akibat dari gagasan teologis adalah, alam semesta dianggap sebagai tatanan mitos spiritual, sehingga manusia memuja benda-benda fisik seakan mereka benda hidup guna keberuntungan manusia. Akibatnya, terjadi kekacauan pemikiran yang menimbulkan kekacauan sosial, karena seolah-olah takdir manusia ada pada benda-benda tersebut, pada hal menurut Comte, takdir manusia ada pada manusia (pemikiran) itu sendiri.

[29]Comte membagi tiga tahap perkembangan intelektual manusia yaitu: Tahap teologis; adalah tingkat pemikiran manusia bahwa semua benda di dunia mempunyai jiwa dan itu disebabkan oleh suatu kekuatan yang berada di atas manusia. Tahap metafisis; pada tahap ini manusia menganggap bahwa didalam setiap gejala terdapat kekuatan-kekuatan atau inti tertentu yang pada akhirnya akan dapat diungkapkan. Oleh karena adanya kepercayaan bahwa setiap cita-cita terkait pada suatu realitas tertentu dan tidak ada usaha untuk menemukan hukum-hukum alam yang seragam. Tahap positif; adalah tahap dimana manusia mulai berpikir secara ilmiah, di sini manusia ingin menemukan hokum yang dapat diperiksa secara empiris (dikutip dari Piotr Sztompka, Sosiologi Perubahan Sosial, Jakarta: Prenada, 2004).

[30] Ibid.

[31] 2004: 22.

[32] Ibid., hal. 36-41.

[33] Max Weber, Etika Protestan & Spirit Kapitalisme, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2006), hal. 98.

[34] Ibid.

[35] ibid

[36] Descartes, Philosopical Writings, New York: Modern Library Book), page14

[37] Bambang Q-Anees & Radea Juli A. Hambali, Filsafat Untuk Umum, (Jakarta: Kencana, 2003), hal. 322.

[38] Lihat Jurnal Transformasi Vol 3 nomor 2, Agustus 2007. Pada tulisan Aripin Tambunan, Varietas Baru Manusia, Homo Ingenium Praeter Impius.

[39] Ganguan mental ini merupakan totalitas kesatuan dari ekspresi mental yang patologis terhadap stimuli social, dikombinasikan dengan factor-faktor penyebab sekunder lainnya. (Lihat, Kartini Kartono, Patologi Sosial, Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2005.)

[40] N. Daldjoeni, Geografi Kota dan Desa, (Bandung: Alumni, 1998), hal. 1.

[41] Ibid., hal 3.

[42]Vol 4, page 381.

[43] Karena mengembangkan manusia, berarti akan mengembangkan kota. Manusia berkembang, maka kotapun akan berkembang. Jika kota dikembangkan dan manusia tidak, maka akan terjadi kota Sodom dan gomora.

[44] N. Daldjoeni, Geografi Kota dan Desa, (Bandung: Alumni, 1998), hal. 1.

[45] Karl R. Popper, Masyarakat Terbuka dan Musuh-musuhnya, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2002), hal. 413.



Last Updated ( Friday, 04 December 2009 )
 
< Prev   Next >
 

Login Form






Lost Password?
No account yet? Register

Polls

Apa yang paling Anda inginkan ada di website Inti?
 

Pengunjung

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini25
mod_vvisit_counterKemarin37
mod_vvisit_counterMinggu ini25
mod_vvisit_counterBulan ini605
mod_vvisit_counterSemuanya15843
We have 20 guests online
Free Joomla Templates by JoomlaShine.com