Waktu Hari ini

Statistics

OS: Linux m
PHP: 5.2.9
MySQL: 5.0.92-community-log
Time: 03:35
Caching: Disabled
GZIP: Enabled
Members: 59
News: 151
Web Links: 9
Visitors: 71598
H o m e arrow Artikel arrow Umum arrow Masyarakat dan Kota

meskipun masih dalam tahap pengembangan websit STT INTI yang baru sudah dapat dikunjungi di www.sttinti.com
Masyarakat dan Kota PDF Print E-mail
Written by Aripin Tambunan   
Saturday, 24 October 2009
Article Index
Masyarakat dan Kota
Page 2
Page 3
Page 4
Page 5
Page 6
Page 7
Page 8
Page 9
Page 10
Page 11
Page 12

Masyarakat dan Kota dalam Perspektif Teosofi

Oleh

Aripin Tambunan

 

Pendahuluan

       Perspektif teosofi yang dimaksud pada judul tulisan ini adalah, perspektif dari sudut pandang teologi, sosiologi, dan filsafat[1] disingkat teosofi. Mengapa masyarakat harus ditinjau dari tiga sudut pandang tersebut? Karena sesuai dengan apa yang dikatakan  Rousseau dalam Mochtar Pakpahan bahwa, masyarakat adalah kesatuan yang dibentuk individu-individu, individu-individu tersebut membentuk kesatuan melalui perjanjian masyarakat. Kesatuan masyarakat tersebut membentuk pendapat umum yang disebut dengan volonte generale. Dan Volonte generale ini dianggap sebagai cerminan kemauan dan kehendak umum yaitu masyarakat.[2]

Karena masyarakat datang dari individu-individu, maka seharusnya untuk memahami masyarakat perlu terlebih dahulu memahami manusia secara individu. Manusia ketika dicipta ia memiliki roh/ jiwa dan tubuh/ debu. Pertemuan dari keduanya menjadikan manusia menjadi mahluk yang dapat berpikir dan memiliki roh. Pikiran dan roh yang dimiliki manusia tersebut haruslah terus dicerdaskan, mengapa? Karena ada tugas yang diembankan Tuhan kepada manusia, yang memerlukan kecerdasan dalam bentuk rasio/ berpikir dan kecerdasan roh/ spiritual untuk dapat menyelesaikannya dengan baik dan benar. Tugas tersebut dikenal dengan  mandat budaya yaitu, ” Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi."

Untuk mencerdaskan roh/spiritual maka tentulah harus memakai metoda keilmuan yang tepat, dan metoda keilmuan tersebut ialah teologi. Untuk mencerdaskan pikiran/ rasio, tentu juga harus memakai metoda keilmuan yang tepat, dan metoda tersebut ialah filsafat. Lalu apa kaitannya dengan sosiologi?

Ketika Tuhan menciptakan alam semesta, Ia melihat semua ciptaanNya tersebut adalah baik. Namun tidak demikian ketika Ia melihat manusia, Tuhan berkata, ’tidak baik manusia itu seorang diri, Aku akan menjadikan seorang penolong baginya’ Lalu Tuhan Allah mencipta Hawa dan menempatkannya di sisi Adam. Inilah keluarga pertama yang ada di muka bumi, dan menurut Rousseau, keluarga merupakan awal dari semua kelompok masyarakat dan merupakan satu-satunya kelompok yang paling alami. Sebab di dalam keluargalah masyarakat pertama tercipta, di mana anak-anak akan bergantung pada ayah selama mereka membutuhkan perlindungan. Segera setelah perlindungan itu tidak mereka butuhkan, maka ikatan alamiah itupun akan dilepaskan. Dan keluarga tersebut akan dijalankan berdasarkan kesepakatan atau kontrak saja. Karena ayah tidak lagi berkewajiban melindungi anak, dan anak tidak lagi berkewajiban untuk patuh pada ayah. Rousseau mengatakan hubungan yang demikian sebagai kebebasan yang umum yang datang dari kodrat manusia.[3]

Dengan demikian keluarga pun harus terus dicerdaskan untuk dapat mengemban mandat budaya yang diembankan Tuhan pada mereka. Dan tentu metoda keilmuan yang tepat untuk mencerdaskan kehidupan sosial mereka, ialah metoda keilmuan sosiologi. Jadi jika membicarakan masyarakat, tanpa melibatkan ketiga disiplin ilmu ini, sepertinya akan mengalami ketimpangan-ketimpangan pada sisi mana ilmu tersebut tidak diikutsertakan dalam pembahasan masyarakat.


Last Updated ( Friday, 04 December 2009 )
 
< Prev   Next >
 
Free Joomla Templates by JoomlaShine.com