Waktu Hari ini

Statistics

OS: Linux m
PHP: 5.2.9
MySQL: 5.0.92-community-log
Time: 03:39
Caching: Disabled
GZIP: Enabled
Members: 59
News: 151
Web Links: 9
Visitors: 71598
H o m e arrow Administrasi arrow Iman, pendidikan, dan pelayanan

meskipun masih dalam tahap pengembangan websit STT INTI yang baru sudah dapat dikunjungi di www.sttinti.com
Iman, pendidikan, dan pelayanan PDF Print E-mail
Written by Aripin Tambunan   
Saturday, 24 October 2009
Article Index
Iman, pendidikan, dan pelayanan
Page 2
Page 3
Page 4
Page 5
Page 6

BIBLIOGRAPHI

 

Barbour, Ian G.,

2005        Menemukan Tuhan dalam Sains Kontemporer dan Agama, Bandung:

Mizan.

 

Clark, Gordon H.,

1985    Thales To Dewey, Maryland: The Trinity Foundation.

 

Ehrman, Bart D.,

            2006    Misquoting Jesus, Jakarta: Gramedia.

 

Hawton, Hector,

2003        Filsafat Yang Menghibur, Yogyakarta: Ikon

 

Palmquis, Stephen,

            2002    Pohon filsafat, Yogyakarta: Pustaka Pelajar

 

Pals, Daniel L.,

2003        Dekonstruksi Kebenaran: Kritik Tujuh Teori Agama, Yogyakarta:

            IRCiSoD

Morin, Edgar,

2005    Tujuh materi Penting Bagi Dunia Pendidikan, Yogyakarta: Kanisius

 

Mudyahardjo, Redja,

            2004    Filsafat Ilmu Pendidikan, Bandung: Rosda.

 

Tong, Joseph, 

2006    Keunggulan Anugerah mutlak, Bandung: STTB.

 

Walters, J. Donald,

2003    Crisis in Modern Thought: Menyelami Kemajuan Ilmu Pengetahuan dalam Lingkup Filsafat dan Hukum Kodrat, Jakarta: Gramedia.

 

JURNAL

 

Aripin Tambunan, Teologi-Filosofi Penderitaan,  dalam Jurnal Transformasi, vol. 2,  No. 1, Pebruari 2006, Bandung: Institut Teologi Indonesia

 

 



[1] Lihat, Bart D. Ehrman dalam bukunya, Misquoting Jesus, Jakarta: Gramedia, 2006, tentang bagaimana penyalinan ulang manuskrip-manuskrip pada abad I sampai abad IV.

[2] Meminjam istilah yang dipakai oleh Bart D. Ehrman.

[3] Ibid., hlm. 30-31.

[4] Lihat Hector Hawton, Filsafat yang Menghibur, Yogyakarta: Ikon, 2003, hlm. 35-47. Sekalipun pembelengguan terhadap Thomas hobbes dan Leibniz dilakukan oleh pemerintah, tetapi pemerintah yang dikuasai oleh gereja.

[5] Joseph Tong, Keunggulan Anugerah mutlak, (Bandung, STTB, 2006), hlm. 7-11.

[6] Gordon H. Clark, Thales To Dewey, (Maryland: The Trinity Foundation, 1985). Page 270.

[7] Lihat penjelasan lebih lanjut mengenai cahaya dalam tulisan, Arthur Beiser (terj. The Houw Liong), Konsep Fisika Modern, (Jakarta: Erlangga, 2005), hlm. 57-118.

[8] Penjelasan lebih lanjut lihat, Ibid., hlm 5-19.

[9] Edgar Morin, Tujuh materi Penting Bagi Dunia Pendidikan, (Yogyakarta: Kanisius, 2005), hlm. 24. Ia menuliskan hal tersebut ketika ia diminta oleh UNESCO untuk menuliskan gagasannya tentang pendidikan masa depan. Ia memberikan tujuh materi penting tentang pendidikan masa depan, dan salah satunya ialah mendeteksi kekeliruan dan ilusi. Dan dalam salah satu kekeliruan dan ilusi dalam dunia pendidikan adalah kekeliruan intelektual yang mencakup teori, doktrin dan ideologi.

[10] J. Donald Walters, Crisis in Modern Thought: Menyelami Kemajuan Ilmu Pengetahuan dalam Lingkup Filsafat dan Hukum Kodrat, (Jakarta: Gramedia, 2003), hlm. 21.

[11] Mengapa pendidikan seperti itu tidak cocok pada dunia kekristenan, karena Yesus sendiri mengatakan, bahwa kebenaran itu sendiri akan memerdekakan kamu. Itu berarti kebenaran harus di atas dari pada dogma, sehingga jika ada satu pemikiran yang benar, namun bertentangan dengan dogma. Maka dogmalah yang wajib berubah mengikuti kebenaran.

[12] Lihat penjelasan lebih lanjut pada Aripin Tambunan, Teologi-Filosofi Penderitaan, dalam bagian penyebab penderitaan, pada Jurnal Transformasi, vol. 2,  No. 1, Pebruari 2006, Bandung: Institut Teologi Indonesia.

[13] Lihat lebih lanjut, Stephen Palmquis, Pohon filsafat, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2002.

[14] Mengapa teologi-filosofi, dan bukan filsafat saja? Karena jika hanya menerapkan filsafat saja tidak akan mampu mengkajinya, diperlukan juga teologi.

[15] J. Donald Walters, Crisis in Modern Thought: Menyelami Kemajuan Ilmu Pengetahuan dalam Lingkup Filsafat dan Hukum Kodrat, (Jakarta: Gramedia, 2003),  hlm. 22.

[16] Artinya kebebasan berpikir tanpa dibatasi oleh doktrin tertentu, semata-mata hanya tertumpu pada penggunaan metoda sains. Dan metoda sains yang dimaksud lebih tertuju kepada empiris. Pada hal seperti diketahui bahwa kebenaran empiris dapat menjadi fallibilisme. Artinya, bahwa penilaian empiris dapat keliru (fallible) dan bersifat mungkin (probable). Empiris hanya dapat pasti bila ada informasi yang pasti. Sebab emperisme melakukan pengamatannya hanya melalui pengamatan gejala-gejala umum, sehingga kesimpulannya akan dapat keliru, (Lorens bagus, Kamus Filsafat, (Jakarta: Gramedia, 2002).

[17] Seorang Sosiolog dari Prancis yang meninjau agama dari sudut pandang sosiologi dan mengeluarkan satu buku yang sangat terkenal, The Elementary of Religious Life.

[18] Daniel L. Pals, Dekonstruksi Kebenaran, (Yogyakarta: IRCiSoD, 2003), hlm. 129-168.

[19] Teologi proses, merupakan teologi yang mengadaptasi filsafat proses dari Alfred North Whitehead, yang muncul pada awal abad ke-20.

[20] Ian G. Barbour, Menemukan Tuhan dalam Sains Kontemporer dan agama, (Bandung: Mizan, 2005), hlm. 78-79.

[21] Ibid.

[22] Redja Mudyahardjo, Filsafat Ilmu Pendidikan, (Bandung: Rosda, 2004), hlm. 69-70.

[23] Ibid.

[24] Ibid., hlm. 46.

[25] Edgar Morin, Tujuh materi penting bagi dunia pendidikan, (Yogyakarta: Kanisius, 2005), hlm. 39-43.

[26] Lihat tabel empat arah pemikiran manusia

[27]Daniel L. Pals, Dekonstruksi Kebenaran, (Yogyakarta: IRCiSoD, 2003), hlm. 141.



Last Updated ( Friday, 04 December 2009 )
 
< Prev   Next >
 
Free Joomla Templates by JoomlaShine.com