| Iman, pendidikan, dan pelayanan |
|
|
|
| Written by Aripin Tambunan | ||||||||
| Saturday, 24 October 2009 | ||||||||
Page 1 of 6 Iman, Pendidikan dan Pelayanan Oleh Aripin Tambunan Pendahuluan Dua kemalangan yang terjadi pada dunia kekristenan menyangkut tema di atas, pertama, ada orang yang beriman dan mau melayani tetapi tidak terdidik dengan baik, sehingga berpotensi besar untuk mengajarkan ajaran yang berbeda dari Alkitab. Dengan kata lain ia mengajarkan ajaran sesat tanpa bermaksud menyesatkan. Dan bila seseorang memegang prinsip ini, maka alat ukur untuk mengukur seseorang layak melayani adalah kemauan dan bukannya kemampuannya. Dan akibatnya muncul orang yang beriman namun buta pendidikan, pada hal Alkitab sangat menekankan pendidikan. Hal itu dapat terlihat dalam kitab Amsal, dan yang lebih tegas dapat terlihat dalam, Ulangan 6: 4-7, yaitu ”... haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun.”
Kedua, ada yang berpikir pendidikan teologi lebih utama daripada iman, itu sebabnya ia akan terus mengejar pendidikan, tanpa memperhatikan garis pemisah tentang pendidikan tersebut. Apakah masih berdasarkan Alkitab atau berdasarkan filsafat dan sains. Dan karena ia terlalu mengagungkan filsafat dan sains, maka ia mulai menghina Alkitab, dan berkata ”Alkitab perlu direkonstruksi, tidak dapat diterima rasio.” Pada hal untuk merekonstruksi Alkitab memerlukan manuskrip[1] asli agar dapat dilakukan perbaikan yang sesuai dengan aslinya. Namun kenyataannya yang asli sudah tidak diketahui keberadaannya, dan yang ada adalah salinan-salinan yang di duga mendekati aslinya. Kemalangan pertama di atas tidak selaras dengan kekristenan, sebab kekristenan adalah agama buku.[2] Artinya, jika seseorang ingin tahu harus bagaimana ia menyembah, harus hidup atau berperilaku sebagai seorang yang beriman kepada Tuhan, maka ia harus melihat/ mempelajari Alkitab, masuk ke dalam pendidikan. Dan bagaimana ia bisa mempelajari Alkitab, jika ia tidak belajar (terdidik) cara mempelajari/ menafsir Alkitab? Bagaimana ia dapat melayani dengan baik, jika ia tidak tahu apa yang harus ia beritakan/ ajarkan. Sebab pengetahuan yang benar terhadap firman Tuhan, akan menghasilkan iman yang benar dan iman yang benar akan menghasilkan tingkahlaku yang benar. Tidak heran, pada masa awal kekristenan, Celsus menuduh, bahwa pengikut-pengikut Kristen adalah orang-orang bodoh, ia mengatakan:[3] Nasihat (orang Kristen) adalah seperti ini. ”jangan biarkan orang terpelajar, orang berhikmat, orang yang masuk akal datang mendekat. Karena kesanggupan-kesanggupan demikian kita pandang sebagai kejahatan, tetapi bagi siapapun yang bodoh, yang bebal, yang tidak terpelajar, yang masih anak-anak, biarlah mereka datang dengan gagah.” Dan yang lebih menyakitkan lagi dari tuduhan Celsus adalah: Selain itu, kami melihat bahwa orang-orang yang membagikan pengetahuan rahasia mereka di pasar-pasar dan yang berkeliaran mengemis-ngemis tidak pernah memasuki perkumpulan orang terpelajar, mereka juga tidak berani menyingkapkan kepercayaan agung mereka di depan orang-orang terpelajar; tetapi setiap kali mereka melihat anak-anak remaja dan segerombolan budak dan sekelompok orang bodoh, mereka membujuknya dan memamerkan diri di hadapan mereka. Bukan hanya pada masa-masa Celsus, tetapi pada waktu abad 16 dan 17 pun banyak didapati pembelengguan terhadap akal budi yang dilakukan oleh pihak Gereja. Misalnya, Galileo harus dijadikan tahanan rumah karena pandangannya tentang indera yang menipu, sehingga menghasilkan teori Heliocentris yang menggugurkan teori Geocentris yang pada waktu itu dipegang oleh gereja. Lain lagi Thomas Hobbes, ia harus menyingkir ke luar Inggris bertahun-tahun lamanya. Spinosa dikucilkan dan bahkan pernah dilempari batu, dan buku Ethicnya tidak dapat diterbitkan pada masa hidupnya. Karya Leibniz yang berjudul Nouveaux Essais tidak dapat diterbitkan hingga 50 tahun setelah kematiannya.[4] Melihat hal-hal tersebut di atas sebenarnya sangat menyedihkan, mengingat bahwa pada mulanya agama Kristen adalah agama buku. Agama yang harus menggunakan kemampuan intelektual untuk dapat memahami berbagai-bagai macam tulisan, mulai dari kitab hukum Torah, surat-surat kiriman, surat-surat pengembalaan, kitab-kitab puisi, nubuatan dan perumpamaan. Jadi pada dasarnya, agama Kristen adalah agama yang memerlukan intelektual (pendidikan) dan bukan hanya terfokus pada iman saja. Oleh sebab itu, pada pembahasan ini akan dibahas keterkaitan antara iman, pendidikan dan pelayan. |
||||||||
| Last Updated ( Friday, 04 December 2009 ) | ||||||||
| < Prev | Next > |
|---|